Kamis, 31 Juli 2014

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Quran Al-Karim Surah An-Nahl [16]: ayat 18)

Jumat, 25 Juli 2014

Ulama Salaf

Hikmah di balik musibah:
ulama adalah musibah
yang tak tergantikan,Wafatnya ulama laksana bintang yang padam.
Wafatnya Ulama Adalah Hilangnya Ilmu Umat manusia dapat hidup bersama para ulama
Pelajarilah ilmu sebelum ilmu pergi,Sahabat
bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin
ilmu bisa pergi Rasulullah menjawab Perginya ilmu adalah dengan perginya (wafatnya) orang-
orang yang membawa ilmu (ulama).

Mengenal ulama

Ulama indonesia

Jumat, 18 Juli 2014




ULAMA BESAR Menunda taubat terhadap dunia mereka masuk dalam firmaNya :

  إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعًۭا

Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah

وَإِذَا مَسَّهُ ٱلْخَيْرُ مَنُوعًا

dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir (Al Maarij 20-21)

Berbeda Keadaanya jika seorang yang senantiasa mengusahakan taat kepada Alloh ta’ala  kemudian diberikan cobaan dengan datangnya musibah yaitu datangnya  tanda kematian dengan sakit Dan Kalaupun ketika salah satu dari keluarganya atau saudaranya  diberitakan pergi meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya , Maka hatinya  yang halus akan tersentak dan terperanga kemudian meneteskan air mata karena kesedihan yang dialaminya, kemudian dia mengucapkan kata kata bijak yang diajarkan RosulNya, 

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌۭ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” Albaqoroh 156

Mereka pun bertawakal kepada Alloh dan Menyerahkan segala urusan kepadaNya, Kemudian Pendahulu kita yang shalih sering menyebut mereka sebagai orang orang yang banyak mengingat kematian dan sehingga tak jarang para ahli hikmah menyebutkan orang orang seperti ini memiliki kebiasaan dalam hidupnya : SEMANGAT DALAM BERIBADAH, MENYEGERAKAN TAUBAT DAN TIDAK RAKUS TERHADAP DUNIA

Sahabatku yang budiman Kita Tidak mengetahui kapan dan dimana seseorang akan meninggalkan dunia ini dan ketika kematian itu datang maka tidak bisa seseorang meminta untuk diundurkan barang sebentarpun, Maka hendaknya setiap diri menjadi hamba-hamba yang cerdas untuk mempersiapkanya mulai dari sekarang bekal bekal kematian ini,

 Alloh Ta’ala Berfirman :

 “وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۭ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًۭا ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍۢ تَمُوتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۢ ” 

“فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَـْٔخِرُونَ سَاعَةًۭ ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ”

“Seseorang itu tidak akan mengetahui apa yang akan dikerjakan pada esok harinya dan seorangpun tidak akan mengetahui pula di bumi mana ia akan mati” (Luqman: 34)”Maka apabila telah tiba waktu ajal mereka, tidaklah mereka itu dapat mengundurkannya barang sesaat dan tidak  pula memajukanya.” (an-Nahl: 61)

 

Jadi jangan sampai kita menyesal nanti sebagaimana kaum kafir dan munafiq ketika mereka menemui ajalnya mereka merengek kepada Alloh Ta’ala untuk diundurkan baran sesaat agar mereka bisa kembali kedunia dan agar bisa bersedekah dan berbuat kebaikan dengan amalan-amalan shalih . 

قال تعالى “يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَٰلُكُمْ وَلَآ أَوْلَٰدُكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ”

وَأَنفِقُوا۟ مِن مَّا رَزَقْنَٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍۢ قَرِيبٍۢ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا ۚ وَٱللَّهُ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai sekalian orang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu itu melalaikan engkau semua dari mengingat kepada Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh kerugian. Dan nafkahkanlah -untuk kebaikan- sebagian dari apa-apa yang Kami rezekikan kepadamu semua sebelum kematian mendatangi seseorang dari engkau semua, lalu ia berkata: “Ya Rob ku mengapa aku tidak Engkau beri tangguh barang sedikit waktu, supaya aku dapat memberikan sedekah dan aku dapat dimasukkan dalam golongan orang-orang shalih. Allah sama sekali tidak akan memberikan tangguhan waktu kepada sesuatu jiwa jikalau telah tiba ajalnya dan Allah adalah Maha Periksa perihal apa saja yang engkau semua lakukan.” (al-Munafiqun: 9-11)

Dan FirmanNya :

حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ٱرْجِعُونِ

لَعَلِّىٓ أَعْمَلُ صَٰلِحًۭا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّآ ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا ۖ وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

فَإِذَا نُفِخَ فِى ٱلصُّورِ فَلَآ أَنسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍۢ وَلَا يَتَسَآءَلُونَ

Allah Ta’ala berfirman lagi: “Sehingga dikala kematian telah tiba pada seorang diantara mereka, iapun berkatalah: “Ya Rob ku, kembalikanlah saya hidup -kedunia- supaya saya dapat mengerjakan amalan yang baik yang telah saya tinggalkan”. Janganlah begitu, Sesungguhnya perkataan itu hanyalah sekedar yang dapat ia ucapkan. Di hadapan mereka ada barzakh, dinding yang membatasi sampai hari mereka dibangkitkan. Selanjutnya, apabila ditiup sangkakala, maka pada hari itu tiada lagi pertalian -kekerabatan dan persahabatan- diantara mereka dan antara satu dengan lainnya tidak dapat saling menayakan. QS.Almukminun 99-101

Sahabat Yang Budiman, Maka Jadilah Kita semua sebagai musafir didunia ini yang sadar akan kembali kepada Alloh Ta’ala dan Akan dimintai pertanggungan jawab oleh Alloh dari semua perbuatan kita

 Rosul sholollohualaihi Wassalam Bersabda :

وعن ابن عمر رضي اللَّه عنهما قال : أَخَذَ رَسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بِمنكِبِي فَقَالَ : «كُنْ في الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَو عابرُ سَبِيلٍ » وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رضي اللَّه عنهما يقول : إِذا أَمسَيتَ، فَلا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ ، فَلا تَنْتَظِرِ المَسَاءَ ، وخذ مِن صِحَّتِكَ لَمَرَضِك وَمِن حَيَاتِكَ لمَوتِكَ » رواه البخاري 

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah  menepuk bahuku lalu bersabda: “Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah engkau itu orang gharib -orang yang berada di suatu negeri yang bukan negerinya sendiri- atau sebagai orang yang melalui jalan (Musafir).” Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata: “Jikalau engkau diwaktu sore, maka janganlah engkau menanti-nantikan waktu pagi dan jikalau engkau diwaktu pagi, janganlah engkau menanti-nantikan waktu sore -yakni untuk mengamalkan kebaikan itu hendaklah sesegera mungkin. Ambillah kesempatan sewaktu engkau dalam kondisi sehat untuk mengejar kekurangan di waktu engkau sakit dan di waktu engkau masih hidup guna bekal kematianmu.” (Riwayat Bukhari)

Lalu bagaimana supaya kita selalu sadar bahwa kita adalah orang orang yang asing yang akan meninggalkan persingghan kita ini yaitu DENGAN MEMPERBANYAK MENGINGAT KEMATIAN DAN MENJADIKAN KEMATIAN SAUDARA KITA SEBAGAI NASEHAT BUAT KITA “

Sebagaimana Perintah Rosul Sholollohualaihi Wassalam :

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ » يَعني المَوْتَ ، رواه الترمذي وقال : حديثٌ حسنٌ .

“Perbanyaklah olehmu semua akan mengingat-ingat kepada pemutus segala macam kelezatan yaitu kematian. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi hadits hasan.



ULAMA BESAR Meraih Kebahagian Hidup Itu Adalah:

 وأعظم الأسباب لذلك وأصلها وأسهاه الإيمان والعمل الصالح *

1. Beriman dan beramal Saleh (ini adalah sebab kebahagian terbesar dan mendasar,pent )

الإحسان إلى الخلق بالقول والفعل، وأنواع المعروف*

2. Berbuat baik kepada makhluk dengan perkataan dan perbuatan dan macam-macam kebaikan lainya (ini termasuk sebab yang dapat menghilangkan keresahan dan kegundahan hati Dan Perbuatan baik ini disesuaikan dengan hak hak mahkluk,pent)

الاشتغال بعمل من الأعمال أو علم من العلوم النافعة*

3. Sibuk beramal dari amal-amal  atau ilmu yang bermanfaat(Ini termasuk hal yang dapat menghilangkan kegundahan hati yang timbul dari kegalauan jiwa karena  disibukkan oleh urusan-urusan yang memberatkanya)

اجتماع الفكر كله على الاهتمام بعمل اليوم الحاضر، وقطعه عن الاهتمام في الوقت المستقبل، وعن الحزن على الوقت الماضي*

4. Mengkonsentrasikan semua pikiran untuk mengerjakan sebuah pekerjaan pada hari ini dan menghentikan dari pemikiran-pemikiran yang akan datang serta menghentikan dari kesedihan pada waktu-waktu yang lampau.

الإكثار من ذكر الله, فإن لذلك تأثيرا عجيبا في انشراح الصدر وطمأنينته، وزوال همه وغمه*

5. Memperbanyak zikir kepada Allah ta’ala (Berzikir pengaruhnya sangat menakjubkan dalam mendatangkan kelapangan dada dan ketenangan hati, serta menghilangkan rasa resah gelisah

التحدث بنعم الله الظاهرة والباطنة *
6. Menyebut-nyebut nikmat-nikmat Allah, baik yang lahir maupun yang batin.

استعمال ما أرشد إليه النبي في الحديث الصحيح حيث قال: انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم فإنه أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم *

7. Melihat orang-orang yang berada di bawahnya dan tidak melihat orang-orang yang ada di atasnya,sebagaimana petunjuk hadits Rosul :“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan janganlah  melihat orang-orang yang berada di atas, karena sesungguhya itu lebih memungkinkan untuk tidak meremehkan nikmat-nikmat Allah atas kalian.” (Rowahu Bukhari dan Muslim).

استعمال هذا الدعاء الذي كان النبي  يدعو به: اللهم أصلح لي ديني الذي هو عصمة أمري، وأصلح لي دنياي التي فيها معاشي، وأصلح لي آخرتي التي إليها معادي، واجعل الحياة زيادة لي في كل خير، والموت راحة لي من كل شر

8. Berdoa dengan doa yang dipanjatkan Rasulullah Seperti :Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku yang merupakan pelindung perkaraku, perbaikilah bagiku duniaku yang merupakan tempat kehidupanku, perbaikilah akhiratku yang di sana tempat kembaliku, jadikanlah kehidupan ini sebagai sarana bagiku untuk menambah kebaikanku, dan kematian sebagai tempat istirahat dari segala keburukan”. (HR. Muslim).

قوة القلب وعدم انزعاجه وانفعاله للأوهام والخيالات التي تجلبها الأفكار السيئة*

9. Memantapkan hati dan tidak tenggelam pada kepanikan atau bayangan dan pikiran-pikiran buruk,ini  sangat besar pengaruhnya untuk menghindari tekanan penyakit-penyakit  jiwa maupun penyakit-penyakit fisik

ومتى اعتمد القلب على الله، وتوكل عليه، ولم يستسلم للأوهام ولا ملكته الخيالات السيئة، ووثق بالله وطمع في فضله- اندفعت عنه بذلك الهموم والغموم، وزالت عنه كثير من الأسقام البدنية والقلبيةه

10.Bertawakal Kepada Alloh, Jika hati selalu bergantung kepada Allah , bertawakkal kepada-Nya, tidak larut dalam bayang-bayang ketakutan serta pikiran-pikiran buruk diiringi bersandar kepada Allah  seraya benar-benar mengharap karunia-Nya, maka yang demikian itu akan mengusir perasaan gundah dan sedih, dan menghilangkan berbagai penyakit badan dan hati

وينبغي أيضا إذا أصابه مكروه أو خاف منه أن يقارن بين بقية النعم الحاصلة له دينية أو دنيوية، وبين ما أصابه من مكروه فعند المقارنة يتضح كثرة ما هو فيه من النعم، واضمحلال ما أصابه من المكاره

11.Membandingkan kenikmatan yang diterima dengan kesulitan yang diderita, Setiap diri selayaknya jika ditimpa kesulitan atau khawatir terhadapnya agar membandingkannya antara kenikmatan yang telah dia perolehnya baik dalam nikmat agama dan dunia dan membandingkanya dengan kesulitan yang dia alami, maka akan dia dapatkan betapa jauh lebih banyak kenikmatanya dalam dirinya daripada kesulitan dan musibah yang dia rasakan.



ULAMA BESAR Berkata para ulama :
✅فان كانو صلحين انتفع بهم في الدنيا و الاخرة
✅وان اهملهم قصّر في تأديبهم و تربيتهم شقي بهم في الدنيا والاخرة
Artinya ” Jika mereka anak anak itu menjadi sholeh maka bermanfaat buat keluarganya didunia dan ahkirat akan tetapi jika para orang tua melaikan dan meremehkan didalam membimbing dan mendidiknya maka  keluarga tersebut akan menjadi merugi didunia dan ahkirat”
Sahabatku Yang budiman. Membimbing mereka dan mendidiknya adalah tanggung jawab  orang tuanya yaitu para suami dan istri. Dan tata cara mendidik anak adalah  sebagaimana berikut:

PERTAMA :
.حسن اختيار الزوجة في الاصل .
Memilih istri yang baik sebagai pondasi terbentuknya anak yg sholeh ( Adapun bagi mereka yg sudah beristri maka mendidik istri nya supaya menjadi sholehah) Sahabatku yang budiman, Sesungguhnya istri adalah calon ibu bagi anak anak kita insyalloh, Jika istri kita adalah perempuan sholehah maka akan tumbuh ditengah kita anak – anak yg sholeh dan jika sebaliknya maka akan tumbuh anak anak yang jelek atau durhaka
Maka oleh sebab itu seyogyanya seorang laki laki mencari perempuan yg sholehah sebagai calon ibu bagi anak anaknya dan mendidiknya dengan ajaran islam yg haq sebagai pondasi untuk menghasilkan keturunan yg sholeh.
Jangan mengutamakan nilai nilai yg lain dalam memilihnya dan mendidiknya jika tidak maka kalian akan bangkrut.
Sungguh indah ucapan seorang pujangga :
الام مدرسة اذا اعددتها اعددت سعبا طيب الاعراق
Artinya ” Ibu itu adalah sekolahan jika kamu menyiapkanya dengan baik , maka hakikatnya kamu telah mempersiapkan generasi yang baik”

KEDUA
. احتساب الجهد والمل الذي ينفق عليهم Yaitu mengharapkan pahala kepada Alloh semata dari usaha dan harta yang dinafkahkan untuk anak anak mereka,
✅Ini adalah kewajiban seorang ayah maupun ibu untuk mengorbankan waktu, tenaga, harta dan nafkah lainya untuk anaknya.
✅Kemudian hendaknya para orang tua meluruskan niatnya dari nafkah nafkahnya, jangan suka menyebut- nyebut nafkahnya semisal ucapan ” Kalian ini ana yang tidak tau diuntung” kalian ini anak yg tidak tau balas budi, Ayah ini sudah mati matian menyekolahkanmu dan sejenisnya” ini menunjukan ketidak ihklasan dalam mendidik dan menafkahinya.
Rosul Sholollohualaihi Wassalam Bersabda:
اذا انفق الرجل علي اهله نفقة يحتسبها كانت له صدقة “
Artinya : “Ketika seseorang menafkahkan atas keluarganya suatu nafkah dan denganya dia mengharapkan pahala disi Alloh semata maka baginya adalah seperti sedekah” Rowahu Bukhariy.
✅Maka wajib bagi para orang tua untuk mengasihi dan menyayangi serta mendidiknya dengan ikhlas walaupun anak tersebut memiliki kekurangan dalam fisik dan budi pekerti.
✅Kemudian menafkahi mereka dengan tidak pelit atau tidak pula dengan boros yakni diantara yg demikian itu
✅Karna jika terlalu pelit dalam nafkah akan menjadikan sebab mereka meminta minta adapun jika terlalu boros dalam menuruti kmauan anak – anak maka akan menjadi sebab kesombongan pada diri mereka, yang benar adalah pertengahan diantaranya.



ULAMA BESAR GOLONGAN YANG SELAMAT 

1.قال الله تعالى : “و اعتصموا بحبل الله جميعا و لا تفرقوا ” (سورة آل عمران)

Alloh Subhanawa ta’ ala Berfirman:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Ali Imran: 103)

2. و قال تعالى :” و لا تكونوا من المشركين ، من الذين فرقوا دينهم و كانوا شيعا ، كل حزب بما لديهم فرحون” (سورة الروم)

Dan Alloh Subhanawa ta’ ala Berfirman:

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan

Allah. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Ruum: 31-32)

3. و قال صلى الله عليه و سلم : “أوصيكم بتقوى الله عز و جل و السمع و الطاعة و إن تأمر عليكم عبدٌ حبشيٌ، فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا ، فعليكم بسنتي و سنة الخلفاء الراشدين المهديين تمسكوا بها و عضوا عليها بالنواجذ ، و إياكم و محدثات الأمور ، فإن كل محدثة بدعة ، و كل بدعة ضلالة ، و كل ضلالة في النار” (رواه النسائي و الترمذي و قال حديث حسن صحيح)

Dan Rosululloh Sholollohu Alihi Wassalam Bersabda

“Aku wasiatkan padamu agar engkau bertakwa kepada Allah,patuh dan ta’at, sekalipun yang memerintahmu seorang budakHabsyi. Sebab barangsiapa hidup (lama) di antara kamu tentu akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Karena itu, berpegangteguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang (mereka itu) mendapat petunjuk. Pegang teguhlah ia sekuat-kuatnya. Dan hati-hatilah terhadap setiap perkara yang diada-adakan, karena semua perkara yang diada-adakan itu adalahbid’ah, sedang setiap bid’ah adalah sesat (dan setiap yang sesat tempatnya di dalam Neraka).” (HR. Nasa’i dan At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih).

4. و قال صلى الله عليه و سلم : “ألا و إن من قبلكم من أهل الكتاب افترقوا على ثنتين و سبعين ملة (1) ، و إن هذه الملة (2) ستفترق على ثلاثِ و سبعين : ثنتان و سبعون في النار ، وواحدة في الجنة، و هي الجماعة” (رواه أحمد و غيره و حسنه الحافظ)

 Dan Rosululloh Sholollohu Alihi Wassalam Bersabda:

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahli

kitab telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan.

Dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah belah

menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan

tem-patnya di dalam Neraka dan satu golongan di dalam Surga,

yaitu al-jama’ah.” (HR. Ahmad dan yang lain. Al-Hafidh menggolongkannya hadits hasan)

 

و في رواية : “كلهم في النار إلا مله واحدة : ما أنا عليه و أصحابي” رواه الترمذي و حسنه الألباني في صحيح الجامع 5219

Dalam Riyawat Yang Lain

“Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu

(yaitu) yang aku dan para sahabatku meniti di atasnya.” (HR.

At-Tirmidzi, di-hasan-kan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ 5219

5. و عن ابن مسعود رضي الله عنه قال : “خط لنا رسول الله صلى الله عليه و سلم خطا بيده ثم قال : هذا سبيل الله مستقيما . و خط خطوطا عن يمينه و شماله ، ثم قال : هذه السبل ، ليس منها سبيل إلا عليه شيطان يدعو إليه، ثم قرأ قوله تعالى : “و أن هذا صراطي

مستقيما فاتّبعوه، و لا تتّبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله ، ذلكم وصاكم به لعلكم تتقون” (صحيح رواه أحمد و النسائي)

“Rasulullah membuat garis dengan tangannya lalu bersabda,

‘Ini jalan Allah yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis dikanan kirinya, kemudian bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan yangsesat tak satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapatsetan yang menyeru kepadanya. Selanjutnya beliau membacafirman Allah , ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus maka ikutilah dia janganlah kamu

mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (Al-An’am: 153) (Hadits shahih riwayat Ahmad dan Nasa’i)

6. و قال الشيخ عبد القادر الجيلاني في كتابه “الغُنية” : أما الفرقة الناجية فهي أهل السنة و الجماعة ، و أهل السنة لا اسم لهم إلا اسم واحد و هو أصحاب الحديث.

Syaikh Abdul Qadir Jailani dalam kitabnya Al-Ghunyah Berkata: ” adapun Golongan Yang Selamat yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dan Ahlus Sunnah, tidak ada nama lain bagi mereka kecuali satu nama, yaitu Ashhabul Hadits (para ahli hadits).”

7. يأمرنا الله سبحانه و تعالى أن نعتصم جميعا بالقرآن الكريم ،

Allah memerintahkan agar kita berpegang teguh kepada Al-Qur’anul Karim

 و أن لا نكون من المشركين المتفرقين في دينهم شيعا و أحزابا ،

Dan supaya tidak termasuk orang-orang musyrik yaitu yang

memecah belah agama mereka menjadi beberapa golongan dan kelompok

و يخبرنا الرسلول الكريم أن اليهود و النصارى تفرقوا كثيرا، و أن المسلمين سيتفرقون أكثر منهم ،

Rasulullah mengabarkan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani telah berpecah belah menjadi banyak golongan, sedang umat Islam akan berpecah lebih banyak lagi

و أن هذه الفرق ستكون عرضة لدخول النار ، لانحرافها ، و بُعدها عن كتاب ربها و سنة نبيها ، و أن فرقة واحدة ناجية منها ستدخل الجنة،

Dan golongan-golongan tersebut akan masuk Neraka karena mereka menyimpang dan jauh dari Kitabullah dan Sunnah NabiNya.Hanya satu Golongan Yang Selamat dan mereka akan masuk Surga

 و هي الجماعة المتمسكة بالكتاب و السنة الصحيحة، و عمل أصحاب الرسول صلى الله عليه و سلم.

Yaitu Al-Jamaah, yang berpegang teguh kepada Kitabdan Sunnah yang shahih, di samping melakukan amalan parasahabat dan Rasulullah

اللهم اجعلنا من الفرقة الناجية ، ووفق المسلمين لأن يكونوا منها .

 Ya Allah, jadikanlah kami termasuk dalam golongan yang selamat (Firqah Najiyah). Dan semoga segenap umat Islam termasuk di dalamnya




Suatu saat ada seseorang sedang berjalan di sebuah padang yang luas tak berair, tiba-tiba dia mendengar suara dari awan (mendung), "Siramilah kebun si fulan!" maka awan itu menepi (menuju ke tempat yang ditunjukkan) lalu mengguyurkan airnya di tanah bebatuan hitam. Ternyata ada saluran air dari saluran-saluran itu yang telah penuh dengan air. Maka ia menelusuri (mengikuti) air itu. Ternyata ada seorang laki-laki yang berada di kebunnya sedang mengarahkan air dengan cangkulnya. Kemudian dia bertanya, Wahai hamba Allah, siapakah nama anda? Dia menjawab, "Fulan".
Sebuah nama yang didengar dari awan tadi. Kemudian orang itu balik bertanya, "Mengapa anda menenyakan namaku?" Dia menjawab, "Saya mendengar suara dari awan yang ini adalah airnya, mengatakan 'Siramilah kebun si fulan!' yaitu nama anda. Maka apakah yang telah andakerjakan dalam kebun ini?". Dia menjawab, Karena anda telah mengatakan hal ini maka akan saya ceritakanbahwa saya memperhitungkan (membagi) apa yang dihasilkan oleh kebun ini; sepertiganya saya sedekahkan; sepertiganya lagi saya makan bersama keluarga dan sepertiganya lagi saya kembalikan lagi ke kebun (ditanam kembali). (Hadits Riwayat Muslim, dari Abu Hurairah).

Hadits di atas adalah salah satu contoh kisah nyata dari salah satu keutamaan bersodaqah (bersedekah), yaitu Allah (S.W.T.) tidak akan mengurangi rezeki yang kita sedekahkan, dan bahkan Allah (S.W.T.) akan mengganti dan melipat gandakannya.

Sedekah tidak mengurangi Rezeki

Allah (S.W.T.) berfirman dalam surat Saba bahwa Allah (S.W.T.) akan mengganti sedekah yang kita keluarkan:
"Katakanlah: 'Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)'. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya." (Q.S. Saba 34:39)

Secara logika, mungkin kita akan berfikir bahwa harta yang kita keluarkan untuk sedekah berarti pengurangan harta yang ada di tangan kita. Tetapi pa kenyataannya Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda bahwa harta seseorang tidak akan berkurang karena disedekahkan:
"Ada tiga perkara yang saya bersumpah atasnya dan saya memberitahukan kepadamu semua akan suatu Hadits, maka peliharalah itu: Tidaklah harta seseorang itu akan menjadi berkurang sebab disedekahkan, tidaklah seseorang hamba dianiaya dengan suatu penganiayaan dan ia bersabar dalam menderitanya, melainkan Allah menambahkan kemuliaan padanya, juga tidaklah seseorang hamba itu membuka pintu permintaan, melainkan Allah membuka untuknya pintu kemiskinan," (H.R. Tirmidzi, dari Abu Kabsyah, yaitu Umar bin Sa'ad al-Anmari r.a.)

Sedekah membuka pintu rezeki

Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda "Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sedekah." (HR. Al-Baihaqi)

Dalam salah satu hadits Qudsi, Allah Tabaraka wata’ala berfirman: "Hai anak Adam, infaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu." (H.R. Muslim)

Dalam hadits lain yang dinarasikan oleh Abu Hurairah (r.a.), Nabi (S.A.W.) pernah bersabda: "Tidak ada hari yang disambut oleh para hamba melainkan di sana ada dua malaikat yang turun, sala satunya berkata: "Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang-orang yang berinfaq. Sedangkan (malaikat) yang lainnya berkata: "Ya Allah berikanlah kehancuran kepada orang-orang yang menahan (hartanya)." (H.R. Bukhari - Muslim)

Ada satu kisah pada zaman Nabi (S.A.W.) yang mana seseorang yang banyak hutang berdiam di masjid di saat orang-orang bekerja. Ketika ditanya oleh Nabi (S.A.W.), orang tersebut menjawab bahwa ia sedang banyak hutang. Yang menarik adalah Nabi (S.A.W.) mengajarkan beliau sebuah doa, yang mana doa tersebut tidak menyebut sama sekali "Bukakanlah pintu rezeki" atau "Perbanyaklah rezeki saya sehingga bisa membayar hutang". Tetapi doa yang diajarkan oleh Nabi (S.A.W.) adalah meminta perlindungan dari rasa malas dan bakhil (pelit). Hadits-hadits di atas menjelaskan tentang doa ini, bahwa ke-tidak-pelitan seseorang untuk bersedekah membuka pintu rezeki orang tersebut.

Doa tersebut adalah: "Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu daripada kegundahan dan kesedihan, daripada kelemahan dan kemalasan, daripada sifat pengecut dan bakhil (pelit), daripada kesempitan hutang dan penindasan orang."

Sedekah melipat gandakan rezeki

Bukan saja sedekah membuka pintu rezeki seseorang, tetapi bahkan bersedekah juga melipat-gandakan rezeki yang ada pada kita.

Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda: "Barangsiapa bersedekah dengan sesuatu senilai satu buah kurma yang diperolehnya dari hasil kerja yang baik, bukan haram, dan Allah itu tidak akan menerima kecuali yang baik. Maka sesungguhnya Allah akan menerima sedekah orang itu dengan tangan kanannya, sebagai kiasan kekuasaanNya, kemudian memperkembangkan pahala sedekah tersebut untuk orang yang melakukannya, sebagaimana seseorang dari engkau semua memperkembangkan anak kudanya sehingga menjadi seperti gunung - yakni memenuhi lembah gunung karena banyaknya." (Muttafaq 'alaih, dari Abu Hurairah r.a.)

Janji Allah (S.W.T.) dalam Al-Qur'an bahwa Allah akan melipat-gandakan sedekah kita menjadi 700 kali lipat:
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Q.S. Al-Baqarah 2:261)

Sedekah Menjaga Warisan

Rasulullah (S.A.W.) bersabda "Tidaklah seorang yang bersedekah dengan baik kecuali Allah memelihara kelangsungan warisannya." (H.R. Ahmad)

Di dalam Surat Al-Kahfi ada kisah tentang perjalanan Nabi Musa (A.S.) dengan Khidir. Di dalam kisah tersebut Khidir memperbaiki diding rumah dari dua anak yatim, dan menjelaskan bahwa di bawah dinding tersebut ada harta warisan dari orang tua mereka yang soleh. Khidir memperbaiki dinding tersebut agar harta warisan tersebut tetap pada tempatnya sampai sang anak menjadi dewasa. Demikianlah salah satu contoh bagaimana Allah (S.W.T.) melindungi warisan seseorang.

Sedekah adalah Naungan kita di hari kiamat

Rasulullah (S.A.W.) bersabda "Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya." (HR. Ahmad)

Dalam hadist lain, Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda tentang tujuh orang yang diberi naungan oleh Allah (S.W.T.) pada hari yang mana tidak ada naungan kecuali naungan dari-Nya. Salah satu orang yang diberi naungan pada hari itu adalah orang yang bersedekah dengan tangan kanan, tetapi tangan kirinya tidak mengetahuinya.

Sedekah Menjauhkan diri kita dari api neraka

Rasulullah (S.A.W.) bersabda: "Jauhkan

Allah (S.W.T.) juga berfirman bahwa salah satu ciri dari orang yang bertaqwa yang akan masuk surga adalah orang yang bersedekah diwaktu lapang maupun sempit.
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan" (Q.S. Ali Imran 3:133-134).

Sedekah Mengurangi kesakitan kita di sakaratul maut

Dalam buku Fiqh-Us-Sunnah karangan Sayyid Sabiq, disebutkan Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda: "Sedekah meredakan kemarahan Allah dan menangkal (mengurangi) kepedihan saat maut (Sakratulmaut)."

Rasulullah (S.A.W.) juga pernah bersabda, "Sedekah dari seorang Muslim menigkatkan (hartanya) dimasa kehidupannya. Dan juga meringankan kepedihan saat maut (Sakratulmaut), dan melauinya (sedekah) Allah menghilangkan perasaan sombong dan egois. (Fiqh-us-Sunnah vol. 3, hal 97)

Sedekah Mengobati orang sakit

Rasulullah (S.A.W.) bersabda, "Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersedekah dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana." (H.R. Ath-Thabrani)

Sedekah untuk janda dan orang miskin diibaratkan seperti orang yang berpuasa terus menerus

Rasulullah (S.A.W.) bersabda, "Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam. Ia tidak merasa lelah dan ia juga ibarat orang berpuasa yang tidak pernah berbuka." (H.R. Bukhari)

Quality adalah lebih baik dari Quantity

Bersedekah satu dolar bisa jadi lebih baik dari pada bersedekah seratus-ribu dollar. Jika seseorang hanya memiliki dua dollar kemudian disedekahkannya satu dollar maka sedekah tersebut adalah lebih baik dari pada sedekah dari seseorang Billioner tetapi hanya mensedekahkan seratus ribu dollar.

Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda, "Satu dirham memacu dan mendahului seratus ribu dirham". Para sahabat bertanya, "Bagaimana itu?" Nabi (S.A.W.) menjawab, "Seorang memiliki (hanya) dua dirham. Dia mengambil satu dirham dan bersedekah dengannya, dan seorang lagi memiliki harta-benda yang banyak, dia mengambil seratus ribu dirham untuk disedekahkannya. (HR. An-Nasaa'i)

Di bulan Ramadhan yang mulia ini marilah kita perbanyak sedekah kita, berapapun jumlahnya. Jangan sampai kita menunggu kaya raya atau hidup berlebih untuk bersedekah karena hal tersebut adalah bisikan syetan belaka. Terlebih lagi, jangan sampai kita menunggu sampai ruh kita berada di tenggorakan, karena pada saat itu harta kita sudah dipastikan bukan milik kita lagi tetapi sudah menjadi milik ahli waris.


Al quran Rasulullah SAW menganggap Alquran itu sebagai al-Muta'abbadu bi tilawatihi (hal yang dianggap beribadah bila membacanya). Sayang, meski membacanya dianggap sebagai sebuah bentuk ibadah, kita masih sering membaca yang lain ketimbang Alquran.

Bahkan, banyak kaum Muslimin yang bangga telah membaca buku karangan tokoh tertentu. Mereka merasa pandai dan bertambah luas wawasannya setelah menamatkan buku itu. Mereka juga tak merasa berat untuk membeli beragam judul buku atau majalah. Semuanya dibaca tanpa ada yang terlewatkan.

Tapi, jarang sekali mereka mau menyentuh dan membaca Alquran yang jelas mendatang pahala dan rahmat dari Allah. Malah mereka membiarkan Alquran teronggok di lemari atau di rak buku. Lusuh dan berdebu yang menunjukkan bahwa ia jarang dijamah, apalagi dibaca. Andai saja, mereka tahu apa yang dijanjikan Rasulullah SAW tentang pahala membaca Alquran, niscaya mereka tidak akan menyia-nyiakannya.

Dari Abdullah Ibnu Mas'ud RA, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa membaca satu huruf dari kitabullah, maka baginya kebaikan dengan satu huruf itu, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan 10 kali lipat. Aku tidak mengatakan bahwa, “Alif, lam, mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR at-Tirmidzi, dia mengatakan, “Hadis hasan shahih.)”

Subhanallah. Satu huruf Alquran akan berbuah 10 pahala. Maka, jika kita membaca alif, lam, mim, maka kita akan mendapatkan 30 pahala di sisi Allah. Lalu, berapa huruf dalam basmalah, surah al-Fatihah, dan seluruh Alquran?

Karena itu, marilah bersama-sama kita memperbanyak membaca Alquran dan mengamalkannya. Mari kita atur jadwal rutin membaca Alquran setiap hari. Upayakan tak ada satu hari pun yang terlewatkan tanpa membaca Alquran.

Jangan khawatir bagi yang belum lancar atau masih terbata-bata dalam membaca Alquran. Sebab, Allah akan menganugerahkan pahala bagi yang mau berusaha membaca Alquran. Jangan takut dibilang terlambat belajar Alquran walau usia sudah mencapai 50 tahun atau lebih. Sebab, Allah tetap akan memberikan kemudahan bagi siapa saja yang mau belajar dan mengambil pelajaran dari Alquran. (Lihat QS al-Qamar [54]: 17, 22, 32, 40).

Berbahagialah, karena masih diberi kesempatan belajar Alquran. Dan itu jauh lebih baik daripada tidak mau mempergunakan usia yang ada untuk belajar Alquran. Rasul SAW bersabda, “Orang yang mahir membaca Alquran, nanti akan berkumpul bersama-sama para malaikat yang mulia lagi taat. Dan orang yang terbata-bata ketika membaca Alquran dan  terasa berat baginya, ia akan mendapatkan dua pahala.” (HR Bukhari dan Muslim).



Ulama besar perintah Allah dalam surat Muhammad ayat 18 tersebut merupakan perintah yang tertuju kepada Muhammad saw berikut umatnya. Lalu apakah semua perintah Allah yang secara khusus tertuju kepada beliau juga berlaku kepada umat? Tidak pasti demikian. Tetapi harus melihat kepada qarinah atau petunjuk yang menyertainya.
Para ulama membagi pesan atau perintah Allah kepada Rasul saw dalam Alquran menjadi tiga :
1.  Yang secara khusus tertuju kepada beliau; tidak berlaku kepada umat.
Misalnya QS al-A'raf: 158 yang artinya, "Katakan (wahai Muhammad), 'Aku adalah Rasul Allah untuk kalian semua.'"      Perintah untuk mendeklarasikan diri sebagai rasul atau utusan Allah dalam ayat di atas hanya berlaku untuk beliau;      tidak untuk umatnya.
2. Yang tertuju kepada beliau dan juga kepada umatnya sbb didalamnya terdapat kewajiban yang juga harus dilakukan oleh    umatnya di mana ia berlaku secara umum.
Misalnya: "Katakanlah, 'Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan pada kami." (QS Ali Imran: 84).    Perintah beriman kepada Allah tentu berlaku kepada beliau dan umat.   Atau dalam surat at-Tahrim 1-2 yang artinya, "Wahai Nabi mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah halalkan...     Allah telah menetapkan kepada kalian..." Awalnya dimulai dengan pesan khusus kepada Nabi saw.     Namun kemudian di ayat kedua ada kata "kepada kalian." yang mencakup seluruh kaum muslimin.     Sehingga menurut para mufassir ayat tersebut berlaku kepada kita dan kepada beliau.
3. Yang tidak tertuju kepada beliau, namun kepada umatnya. Penyebutan beliau hanya sebagai penguat.
Misalnya dalam surat QS al-Isra 23 terkait perintah untuk berbakti kepada kedua orang tua dan berbuat baik kepadanya,     Padahal ketika ayat ini turun orang tua beliau telah tiada. Jadi meski beliau disebutkan dalam ayat tersebut      tetapi sebetulnya yang dituju bukan beliau; namun umatnya.
Dengan demikian jelas bahwa tidak semua perintah dan pesan Allah kepada beliau selalu tertuju kepada beliau dan umat secara bersamaan. Namun ada yang hanya tertuju kepada beliau, ada yang tertuju kepada beliau berikut umatnya; dan ada pula yang sebetulnya hanya tertuju kepada umat.



ULAMA MAKKAH Setiap kaum Muslimin mengetahui, Mekkah merupakan tempat yang sangat mulia. Setiap muslim memiliki impian untuk bisa menjejakkan kaki di kota itu. Baik untuk mengerjakan ibadah haji ataupun umrah saja. Kerinduan bertandang ke sana tetap besar, terlebih bagi orang yang pernah merasakan kenikmatan berada di kota suci tersebut.

Keutamaan yang disandang kota suci Mekkah, dapat dilihat dalam dalil-dalil Qur`an ataupun as Sunnah shahihah. Kota Mekkah tidak seperti kota-kota lain di atas bumi ini. Kota ini menyandang kemuliaan dan kehormatan, yang tidak direguk oleh tempat lainnya, sekalipun Madinah. Berikut beberapa dalil yang menunjukkan kemulian kota tersebut.

1. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menetapkan Mekkah sebagai kota suci, yakni sejak penciptaan langit dan bumi. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda pada hari penaklukan kota Mekkah :

إِنَّ هَذَا الْبَلَدَ حَرَّمَهُ اللَّهُ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فَهُوَ حَرَامٌ بِحُرْمَةِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

"Sesungguhnya kota ini, Allah telah memuliakannya pada hari penciptaan langit dan bumi. Ia adalah kota suci dengan dasar kemuliaan yang Allah tetapkan sampai hari Kiamat ". [1]

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَٰذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

"Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekkah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri" [an Naml/27:91].

Dengan seizin Allah, Mekkah akan tetap dalam perlindunganNya, dan menjadi negeri aman tenteram. Hal ini sebagai wujud Allah telah mengabulkan doa Nabi Ibrahim. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata : "Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Mekkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala". [Ibrahim/14:35]

Perlindungan Allah terhadap kota Mekkah, dan khususnya Ka'bah, telah dibuktikan. Sebagai contoh, Allah telah menjaga Ka'bah dari serbuan pasukan gajah pimpinan Raja Abrahah yang bertekad menghancurkannya.

2. Kota Mekkah, merupakan tempat yang paling dicintai oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Seandainya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak terusir dari kota itu, niscaya beliau tidak akan meninggalkannya. Ini tercermin dari sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :

وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ

"Demi Allah. Engkau adalah sebaik-baik bumi, dan bumi Allah yang paling dicintaiNya. Seandainya aku tidak terusir darimu, aku tidak akan keluar (meninggalkanmu)" [2]

3. Shalat di kota Mekkah, terlebih di Masjidil Haram memiliki derajat nilai sangat tinggi, sebanding dengan seratus ribu shalat di tempat lain. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

صَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ

"Satu shalat di Masjidil Haram, lebih utama dibandingkan seratus ribu shalat di tempat lainnya". [HR Ahmad, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh al Albani]

Begitu pula masjid-masjid yang berada dalam batas tanah haram, kendatipun tidak mendapatkan fadhilah pahala sebesar sebagaimana tertera dalam hadits, tetapi shalat di dalamnya lebih afdhal, dibandingkan shalat di luar tanah haram.

Dalilnya, seperti telah diterangkan oleh Syaikh al 'Utsaimin, bahwa ketika Rasulullah berada di Hudaibiyah yang sebagian berada dalam wilayah tanah suci dan sebagian lainnya tidak, maka apabila mengerjakan shalat, maka beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berada di bagian yang masuk tanah suci. Ini menunjukkan, shalat di tanah haram lebih utama, namun tidak menunjukkan diraihnya keutamaan shalat di masjid Ka’bah.[3]

Dengan keutamaan yang dimilikinya, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menetapkan hukum-hukum khusus berkaitan dengan kota Mekkah yang sarat dengan berkah ini. Beberapa hukum berkaitan dengan kota Mekkah, di antaranya :

a. Orang kafir diharamkan memasuki kota Mekkah.
Allah berfirman dalam surat at Taubah ayat 28 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَٰذَا

"Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini …(tahun penaklukan kota Mekkah)"

Imam al Qurthubi berkata : "Diharamkan memberikan keleluasaan kepada orang musyrik untuk masuk tanah Haram. Apabila ia datang, hendaknya imam (penguasa) mengajaknya keluar wilayah tanah Haram untuk mendengarkan apa yang ingin ia sampaikan. Seandainya ia masuk dengan sembunyi-sembunyi dan kemudian mati, maka kuburnya harus dibongkar dan tulang-belulangnya dikeluarkan". [4]

b. Di kota Mekkah, siapapun dilarang berbuat maksiat.
Perbuatan maksiat di kota Mekkah, dosanya sangat besar daripada di tempat lain. Allah berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِي جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ ۚ وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidilharam yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zhalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih" [al Hajj/22:25] [5]

Ayat ini, menurut penjelasan Syaikh as Sa’di, mengandung kewajiban untuk menghormati tanah Haram, keharusan mengagungkannya dengan pengagungan yang besar, dan menjadi peringatan bagi yang ingin berbuat maksiat.[6]

c. Di tanah Mekkah diharamkan binatang buruan ataupun berusaha untuk mengejarnya, juga dilarang menebang pohon liar, memotong durinya, ataupun mencabut rerumputannya.

d. Barang temuan di tanah Haram tidak boleh diambil, kecuali bagi orang yang akan mengumumkannya selama-lamanya.

Dalil yang menunjukkan point (c) dan (d), yaitu sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :

لَا يُعْضَدُ شَوْكُهُ وَلَا يُنَفَّرُ صَيْدُهُ وَلَا يَلْتَقِطُ لُقَطَتَهُ إِلَّا مَنْ عَرَّفَهَا وَلَا يُخْتَلَى خَلَاهُ فَقَالَ الْعَبَّاسُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِلَّا الْإِذْخِرَ فَإِنَّهُ لِقَيْنِهِمْ وَلِبُيُوتِهِمْ قَالَ إِلَّا الْإِذْخِرَ

"Tidak boleh dipatahkan durinya, tidak boleh dikejar hewan buruannya, dan tidak boleh diambil barang temuannya, kecuali bagi orang yang ingin mengumumkannya, dan tidak dicabut rerumputannya. Al 'Abbas berkata,"Kecuali rumput idkhir, wahai Rasulullah." [Mutafaqun ‘alaih]



ULAMA MADINAH Madinah An-Nabawiyyah, telah menyimpan banyak kenangan bersejarah yang tidak akan terlupakan dalam sendi kehidupan kaum muslimin. Di sanalah tonggak jihad fi sabilillah mulai dipancangkan di bawah naungan nubuwwah dalam rangka meninggikan kalimat Allah ‘azza wajalla di muka bumi dan memadamkan api kesombongan dan keangkaramurkaan kaum musyrikin.

Semakin tumbuh dan berkembang kota tersebut sebagai ibukota sebuah negara Islam yang baru lahir, di bawah pimpinan insan terbaik yang terlahir di muka bumi. Kota Madinah menjadi pusat penggemblengan pahlawan-pahlawan Islam yang akan meneruskan tongkat estafet jihad fi sabilillah dan para ulama yang akan menyebarkan dakwah Islam di seluruh penjuru negeri.

Seiring dengan pergantian waktu, namanya pun semakin bertambah harum semerbak laksana mawar yang sedang tumbuh merekah dengan warnanya yang indah dan menawan. Halaqah-halaqah ilmu tumbuh semarak dan berkembang dengan sangat pesatnya mewarnai kehidupan kaum muslimin. Dengan di bawah bimbingan para ulama shahabat yang telah mendapatkan warisan ilmu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lahirlah melalui tangan mereka, generasi terbaik kedua umat ini, yaitu generasi Tabi’in, yang berhasil mewarisi ilmu dari para shahabat sehingga mereka benar-benar menjadi tokoh terkemuka dalam ilmu dan amal.

Kota Madinah pun menjadi impian, dambaan, dan angan-angan para penuntut ilmu di seluruh penjuru negeri untuk bisa mereguk manisnya warisan nubuwwah. Satu di antara sekian buah usaha pendidikan dan bimbingan para sahabat, lahirlah di sana sejumlah ulama yang dikenal dengan sebutan Al-Fuqaha’ As-Sab’ah yang mumpuni dalam hal ilmu dan amal. Mereka itu adalah:

1. Sa’id bin Al-Musayyib
2. ‘Urwah bin Az-Zubair bin Al-’Awwam
3. Sulaiman bin Yasar
4. Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr
5. Abu Bakr bin ‘Abdirrahman
6. Kharijah bin Zaid
7. ‘Ubaidullah bin Abdillah bin ‘Utbah bin Mas’ud
Mereka adalah tujuh orang ulama kota Madinah yang keluasan ilmunya tidak saja diakui oleh penduduk negeri tersebut namun diakui pula oleh para ulama di seluruh penjuru negeri. Dikatakan oleh seorang penyair:

إِذَا قِيْلَ مَنْ فِي الْعِلْمِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ                رِوَايَتُهُمْ لَيْسَتْ عَنِ الْعِـلْمِ خَارِجَةْ

فَقُلْ هُمْ عُبَيْدُ اللهِ عُرْوَةٌ قَاسِـمٌ                سَعِيْدٌ أَبُوْبَكْرٍ سُلَيْـمَانُ خَـارِجَةْ

Jika dikatakan siapa (yang keluasan) ilmunya (seperti) tujuh lautan
Riwayat mereka tidak keluar dari ilmu
Katakanlah mereka itu adalah ‘Ubaidullah, Urwah, Qasim
Sa’id, Abu Bakr, Sulaiman, dan Kharijah

Dengan memohon pertolongan kepada Allah ta’ala, berikut ini akan kami sebutkan biografi singkat mereka satu persatu, Insya Allah kami akan menampilkannya secara bersambung, dimulai dengan Sa’id bin Al-Musayyib, penghulu para Tabi’in, dengan harapan agar kita semua bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari ilmu dan amalan yang mereka miliki sehingga kita bisa meneladaninya dalam kehidupan kita di zaman sekarang.

Sa’id bin Al Musayyib (Penghulu Para Tabi’in)

Kunyah dan Nama Lengkap Beliau

Beliau memiliki kunyah dan nama lengkap sebagai berikut:

Abu Muhammad Sa’id bin Al-Musayyib bin Hazn bin Abi Wahb bin ‘Amr bin A’idz bin ‘Imran bin Makhzum bin Yaqzhah Al-Qurasyi Al-Makhzumi Al-Madani.

Dialah seorang yang ‘alim dari kalangan penduduk Madinah, seorang tokoh tabi’in pada zamannya, seorang yang ahli dalam bidang fiqh pada masanya, satu dari tujuh tokoh ulama ahli fiqh yang terkenal dalam sejarah Islam dan bahkan termasuk dari pemimpin para ulama. Beliau menempati thabaqah kedua yang dikenal di kalangan ahlul hadits adalah thabaqahnya tokoh-tokoh besar tabi’in. Adapun para shahabat, mereka berada pada thabaqah pertama.

Dilahirkan di kota Madinah, dua tahun sejak ‘Umar bin Al-Khaththab mulai memegang tampuk kekhilafahan, beliau adalah seorang yang memiliki kepribadian yang bersahaja. Kepala dan jenggot beliau berwarna putih dan beliau sangat menyenangi pakaian yang berwarna putih. Salah seorang shahabat beliau pernah mengatakan: “Aku belum pernah melihat Sa’id memakai pakaian selain pakaian putih.”

Keilmuan, Ibadah, dan Akhlak Beliau

Beliau berjumpa dengan banyak sahabat dan meriwayatkan hadits dari mereka, di antaranya adalah ‘Umar bin Al-Khaththab, ‘Utsman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Al-’Asy’ari, Sa’d bin Abi Waqqash, ‘Aisyah binti Abi Bakr, Abu Hurairah, ‘Abdullah bin ‘Abbas, Muhammad bin Maslamah, Ummu Salamah, ‘Abdullah bin ‘Umar, Sa’d bin Ubadah, Abu Dzarr Al-Ghifari, Ubay bin Ka’b, Bilal bin Abi Rabah, Abu Darda’, Ummu Syuraik, Hakim bin Hizam, ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash, Abu Sa’id Al-Khudri, Hassan bin Tsabit, Shuhaib Ar-Rumi, Shafwan bin ‘Umayyah, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan yang lainnya.

Beliau adalah orang yang paling mengetahui hadits-hadits yang disampaikan Abu Hurairah dan beliaulah yang menikahi putrinya.

Dan di antara ulama yang meriwayatkan hadits dari beliau adalah Al-Imam Az-Zuhri, Qatadah, ‘Amr bin Dinar, Yahya bin Sa’id Al-Anshori, Syarik bin Abi Namir, ‘Abdurrahman bin Harmalah, ‘Atha Al-Khurasani, Maimun bin Mihran, dan yang lainnya.

Beliau adalah seorang yang memiliki kelebihan dan keutamaan dalam ilmu dan amal. Tentang kelebihan yang dimiliki oleh beliau dalam hal ilmu, sebagaimana digambarkan berikut:

Para ulama mengakui bahwasanya beliau memang seorang mufti (pemberi fatwa) di zamannya dalam keadaan para shahabat bahkan para pembesar shahabat masih hidup di tengah-tengah kaum muslimin pada zaman tersebut.[1]

Fatwa-fatwa beliau dalam berbagai permasalahan selalu menjadi bahan rujukan kaum muslimin dan selalu dikedepankan dalam menyelesaikan berbagai problem umat. Dan di kalangan para fuqaha’ (ahli dalam masalah fiqih), beliau adalah seorang yang sangat pandai dalam bidang fiqih dan hasil pemikiran-pemikiran beliau selalu mendapat tempat yang mulia di hati kaum muslimin di samping beliau pun menguasai sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dahulu, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz sewaktu masih menjabat sebagai gubernur di kota Madinah, tidaklah dia berani memutuskan suatu perkara kecuali setelah menanyakan terlebih dahulu perkara tersebut kepada Sa’id bin Al Musayyib.

Suatu ketika ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz mengalami suatu masalah yang sangat membutuhkan jawaban dan solusi yang cepat dan tepat. Maka beliau mengutus salah seorang utusan untuk menanyakan masalah tersebut kepada Sa’id bin Al-Musayyib. Alkisah sang utusan tersebut berhasil membawa beliau ke hadapan ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz. Melihat kedatangan Sa’id bin Al Musayyib, terkejutlah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz dan rona wajahnya pun berubah menunjukkan rasa malu kepada beliau. Maka berkatalah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz: “Aku meminta maaf kepadamu wahai Sa’id atas kesalahpahaman utusanku. Sebenarnya aku mengutus dia adalah untuk menanyakan kepadamu tentang suatu masalah di majelismu dan bukan untuk menyuruh engkau untuk hadir di hadapanku.”

Dikisahkan pula bahwasanya beliau diberikan kelebihan oleh Allah ‘azza wajalla berupa ilmu tentang tabir mimpi (menafsirkan mimpi seseorang) sebagaimana kemampuan yang telah Allah ta’ala berikan kepada Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Beliau mempelajari ilmu ini dari shahabiyah Asma’ bintu Abi Bakr Ash- Shiddiq, dan Asma’ mengambil ilmu tersebut dari ayahnya yaitu Abu Bakr Ash-Shiddiq. Tentang masalah ini, dikisahkan sebagai berikut:

Telah datang seorang laki-laki kepada beliau menceritakan tentang mimpinya:

“Dalam mimpiku seakan-akan aku melihat ‘Abdul Malik bin Marwan[2] kencing di arah kiblat masjid Nabawi sebanyak 4 kali.” Maka Sa’id berkata: “Kalau mimpimu memang benar seperti itu maka tafsirannya adalah sebagai berikut: sesungguhnya akan lahir dari sulbi ‘Abdul Malik bin Marwan 4 orang khalifah.”[3]

Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib menceritakan bahwasanya beliau melihat dalam mimpinya seakan-akan di antara kedua matanya tertulis ayat:

قل هو الله أحد

maka dia dan keluarganya gembira dengan mimpi tersebut. Maka diceritakanlah mimpi tersebut kepada Sa’id bin Al-Musayyib. Beliau berkata menafsirkan mimpi tersebut: “Kalau memang benar mimpi yang engkau ceritakan, maka ajalmu tinggal sebentar lagi.” Dan Al Hasan bin Ali pun meninggal tidak lama setelah itu.

Seseorang menceritakan mimpinya kepada beliau: “Aku melihat dalam mimpiku seorang wanita cantik berada di atas puncak menara.” Kemudian beliau menafsirkannya bahwa Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi akan menikahi anak perempuan ‘Abdullah bin Ja’far.

Seseorang berkata kepada beliau: “Wahai Abu Muhammad, aku melihat dalam mimpiku seakan-akan aku berada di sebuah tempat yang teduh kemudian aku berdiri di bawah sinar matahari.” Beliau berkata: “Jika memang mimpimu tersebut benar, maka sungguh engkau akan keluar dari Islam.” Kemudian orang itu berkata lagi : “Wahai Abu Muhammad, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku tersebut aku dipaksa keluar dari tempat yang teduh ke tempat terik matahari, maka aku duduk di bawahnya.” Beliau berkata: “Engkau akan dipaksa untuk keluar dari Islam.” Maka orang tersebut ditawan oleh musuh dalam suatu pertempuran dan dipaksa untuk murtad namun kemudian kembali kepada Islam.

Seseorang menceritakan kepada beliau bahwa dalam mimpinya dia melihat seakan-akan dia masuk ke dalam api. Kata beliau : “Engkau tidak akan mati sampai engkau bisa mengarungi lautan, dan engkau mati dalam keadaan terbunuh.” Maka orang tersebut pergi mengarungi lautan dan telah dekat masa kematian baginya.

Dia terbunuh pada peristiwa Qudaid  yaitu sebuah tempat yang terletak antara Makkah dan Madinah. Di tempat itulah pada tahun 130 H pernah terjadi pertempuran hebat yang memakan banyak korban antara penduduk Madinah dengan pasukan Abu Hamzah Al-Khariji.

Beliau juga merupakan teladan di dalam semangatnya menuntut ilmu. Beliau pernah berkata: “Aku pernah melakukan perjalanan sehari semalam hanya untuk mendapatkan satu hadits saja.”

Dan tidak kalah pula, beliau adalah seorang yang sangat semangat dalam beribadah kepada Allah ‘azza wajalla. Beliau pernah mengatakan: “Aku tidak pernah tertinggal shalat jama’ah sejak 40 tahun yang lalu.” Beliau juga berkata: “Tidaklah seorang muadzdzin mengumandangkan adzan sejak 30 tahun yang lalu kecuali aku telah berada di masjid.” Beliau juga sangat rajin dan istiqamah dalam melaksanakan ibadah puasa. Dan  selama hidupnya beliau telah melaksanakan ibadah haji sebanyak 40 kali.

Beliau adalah seorang ulama yang terkenal wara’. Tentang wara’nya beliau ini, pernah disebutkan dalam sebuah riwayat bahwasanya beliau mendapatkan tawaran gaji tunjangan dari Baitul Mal (kas negara) sebanyak 30 ribu lebih. Namun beliau menolak tawaran tersebut seraya berkata: “Aku tidak membutuhkan terhadap harta tersebut.”

Beliau pernah mengatakan: “Barangsiapa yang merasa cukup dengan Allah maka manusia akan butuh kepadanya.”

Beliau juga mendapati masa berkuasanya gubernur Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi di wilayah Irak. Dia adalah seorang penguasa yang kejam dan bengis pada masa itu. Ribuan kaum muslimin dan para ulama menjadi korban keberingasannya. Sangat sedikit sekali di antara kaum muslimin dan para ulama yang selamat dari tangannya. Dan di antara para ulama yang selamat dari keberingasannya adalah Sa’id bin Al-Musayyib. Sampai-sampai ada salah seorang yang bertanya kepada beliau: “Ada apa sebenarnya dengan Al-Hajjaj, kenapa dia tidak pernah memanggilmu untuk menghadap kepadanya, dan dia tidak pernah mengganggumu dan menyakitimu?” Beliau berkata: “Demi Allah aku tidak tahu, kecuali dulu aku pernah melihat dia (Al-Hajjaj) suatu hari masuk ke masjid bersama bapaknya, kemudian dia melaksanakan shalat tetapi dia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya dengan baik. Maka aku mengambil batu kerikil dan aku lemparkan ke arahnya sebagai isyarat agar dia menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.” Maka sejak saat itu Al-Hajjaj pun memperbagus shalatnya. Jadi seakan-akan Al-Hajjaj berhutang budi kepada beliau atas nasehat dan tegurannya dalam memperbaiki cara shalatnya, oleh karena itulah beliau aman dari gangguannya.  

Pujian Para ‘Ulama kepada Beliau

‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallau ‘anhu berkata: “Sa’id bin Al-Musayyib -demi Allah- adalah termasuk dari para mufti (ahli fatwa).”

Qatadah, Mak-hul, Az-Zuhri, dan yang lainnya berkata: “Tidaklah aku melihat seorang yang lebih alim daripada Sa’id bin Al-Musayyib.”

‘Ali bin Al-Madini berkata: “Aku tidaklah mengetahui salah seorang dari kalangan tabi’in yang lebih luas ilmunya daripada Sa’id bin Al-Musayyib. Dan dia menurutku adalah seorang tabi’in yang paling mulia.”

Maimun bin Mihran berkata: “Aku datang ke kota Madinah, maka aku bertanya kepada penduduk Madinah siapa orang yang paling pandai di antara mereka. Maka mereka pun mengarahkanku kepada Sa’id bin Al-Musayyib.”

Inilah perkataan Maimun bin Mihran -seorang tabi’in- dalam keadaan di kota tersebut masih ada ‘Abdullah bin ‘Abbas dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum.[4]

‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz berkata: “Tidaklah ada seorang alim pun di kota Madinah kecuali ia mendatangiku dengan ilmunya, adapun aku, maka aku mendatangi Sa’id bin Al-Musayyib karena sesuatu yang ada pada sisinya berupa ilmu.”

Cobaan yang Menimpa Beliau

Telah menjadi sunnatullah bahwasanya setiap manusia yang hidup di muka bumi pasti akan mengalami cobaan atau musibah. Allah ta’ala berfirman:

الم  أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا وهم لا يفتنون.

“Alif Laam Miim, Apakah manusia mengira bahwasanya mereka akan dibiarkan untuk mengatakan bahwa kami telah beriman sementara mereka belum diuji.” (Al-’Ankabut: 1-2).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن من أشد الناس بلاء الأنبياء ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم.

“Orang yang paling keras cobaannya adalah dari kalangan para nabi kemudian orang yang berikutnya (semisalnya), kemudian orang yang berikutnya (semisalnya), dan kemudian orang yang berikutnya (semisalnya).”

Diceritakan bahwa pada masa kekhilafahan dipegang oleh shahabat ‘Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma, beliau mewakilkan kota Madinah kepada Jabir bin Al-Aswad Az-Zuhri. Dia (Jabir) menyeru manusia untuk berbaiat kepada ‘Abdullah bin Az-Zubair. Maka berkatalah Sa’id: “Aku tidak mau berbaiat sampai manusia semuanya sepakat untuk membaiatnya.” Maka beliau pun dicambuk sebanyak 60 cambukan. Sampailah kabar tersebut kepada ‘Abdullah bin Az-Zubair dan beliau pun menulis surat celaan kepada Jabir dan memerintahkan untuk membiarkan Sa’id bin Al-Musayyib.

Kemudian pula di masa berkuasanya khalifah Al-Walid bin ‘Abdil Malik dan Sulaiman bin ‘Abdil Malik. Beliau diminta untuk berbaiat kepada keduanya namun beliau tidak segera menyambutnya dan menunggu situasi kondusif terlebih dahulu. Maka beliau dicambuk sebanyak 60 cambukan dan diarak di hadapan masyarakat dalam keadaan hanya memakai celana kemudian setelah itu dijebloskan ke dalam penjara.

Kemudian pula beliau pernah disiksa oleh ‘Abdul Malik bin Marwan berupa cambukan sebanyak 50 kali kemudian dijemur di panas matahari dalam keadaan hanya memakai celana.

Dan bentuk cobaan lain yang menimpa beliau adalah pemerintah yang berkuasa pada saat itu melarang kaum muslimin untuk duduk bermajelis dengan beliau.

Namun beliau menghadapi semua itu dengan penuh kesabaran dan selalu mengharap datangnya pertolongan dari Allah subhanahu wata’ala.

Wafat Beliau

Beliau wafat pada tahun 94 Hijriyah karena sakit keras yang menimpanya. Dan tahun tersebut dikenal sebagai tahun Fuqaha’, karena banyaknya para fuqaha’ yang meninggal pada tahun tersebut. Semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan ampunan dan rahmat-Nya kepada beliau.







ULAMA YAMAN  MEMBACA AL-FATIHAH
Ditanya Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin ‘Abdillah al-Imam hafizhahullahu dengan pertanyaan berikut :
ما حكم القراءة للمأموم في الصلاة الجهرية ؟
Apa hukum membaca (surat al-Fatihah, pent) bagi seorang makmum ketika sholah Jahriyah?”
الصحيح من أقوال العلماء أنه يجب عليه قراءة الفاتحة لما في الصحيحين عن عبادة بن الصامت قال : قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : (لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب) وهذا عام يشمل الإمام والمأموم ويشمل الصلاة الجهرية والسرية . ولما في مسلم عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : (من لم يقرأ بفاتحة الكتاب فصلاته خداج غير تمام) . ولما روي أبو يعلي عن أنس قال : قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : (أتقرؤون خلف الإمام والإمام يقرأ ؟ فقالوا : إنا لنفعل . قال : لا تفعلوا ليقرأ أحدكم بفاتحة الكتاب في نفسه) وسنده حسن . وأما ما رواه مسلم أن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم قال : (وإذا قرأ فأن فأنصتوا) فقد أعلها بعض الحفاظ بالشذوذ . وأيضاً هذا عام خصه الأحاديث السابقة الدالة على قراءة الفاتحة .
Syaikh hafizhahullah menjawab :
Yang benar dari pendapat para ulama adalah wajib bagi seorang makmum membaca al-Fatihah sebagaimana hadits di dalam Shahihain dari ‘Ubadah bin Shamit -radhiyallahu ‘anhu-, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Alihi wa Salam bersabda : “Tidak ada sholat bagi yang tidak membaca surat al-Fatihah.” Hadits ini umum, mencakup imam maupun makmum dan mencakup sholat jahriyah maupun siriyah. Dan Sebagaimana hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Alihi wa Salam bersabda : “Barangsiapa yang tidak membaca surat al-Fatihah maka sholatnya kurang tidak sempurna.” Sebagaimana pula diriwayatkan oleh Abu Ya’la dari Anas yang berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Alihi wa Salam bersabda : “Apakah kalian membaca di belakang imam sedangkan imam sedang membaca?” Para sahabat menjawab : “(Iya) sesungguhnya kami melakukannya.” Lalu Nabi bersabda : “Janganlah kalian melakukannya, hendaklah tiap-tiap kalian membaca al-Fatihah sendiri-sendiri.” Dan sanad hadits ini hasan. Adapun yang diriwayatkan oleh Muslim bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Alihi wa Salam bersabda : “Apabila (imam) membaca maka kalian hendaklah diam.” Sebagian huffazh mencacat hadits ini dengan (menilainya sebagai hadits) syadz, dan juga hadits ini umum, dikhususkan dengan hadits-hadits sebelumnya yang menunjukkan akan dibacanya al-Fatihah.”
HUKUM BERAMAL DENGAN HADITS DHA’IF
Ditanya Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab al-Washobi hafizhahullahu dengan pertanyaan berikut :
سائل يقول: ما حكم العمل بالحديث الضعيف ؟
Apa hukumnya beramal dengan hadits dha’if?”
Syaikh hafizhahullah menjawab :
الجواب: كما تعلمون أن الحديث ينقسم إلى ثلاثة أقسام : صحيح ، حسن ، ضعيف وأن الصحيح ينقسم إلى قسمين صحيح لذاته ، وصحيح لغيره، وأن الحسن ينقسم كذلك إلى قسمين حسن لذاته ، وحسن لغيره ، وأن الضعيف أيضاً ينقسم إلى قسمين إلى ضعيف ، وإلى ضعيف جداً ، فالصحيح لذاته والصحيح لغيره والحسن لذاته والحسن لغيره كل هذه يعمل بها ويحتج بها، يبقى موضوع الضعيف أما الضعيف جداً فهذا لا يعمل به ولا يحتج به والضعيف إذا شُدّ بضعيف آخر فارتقى إلى درجة الحسن لغيره إذا وجد ما يشهد له ما يعضده فإن الضعيف معناه أن ضعفه منجبر بخلاف لو كان ضعيف جداً ضعفه ما ينجبر فإذا وجد للضعيف ما يشهد له شاهد أو متابع فحينئذ يكون ضعيفاً لذاته ويكون حسناً لغيره فيرتقي فيعمل به لأنه حسن لغيره وإذا لم يجد ما يعضده فيبقى على ما هو عليه ضعيف لا يحتج به .
Sebagaimana yang kalian fahami, bahwa hadits itu terbagi menjadi tiga macam : shahih, hasan dan dha’if. Shahih sendiri terbagi menjadi dua yaitu shahih lidzaatihi dan shahih lighoirihi. Hasan juga terbagi menjadi dua yaitu hasan lidzaatihi dan hasan lighoirihi. Dha’if sendiri juga ada dua macam, yaitu dha’if dan dha’if jiddan (lemah sekali). Hadits yang shahih lidzatihi, shahih lighoirihi, hasan lidzatihi dan hasan lighoirihi semuanya diamalkan dan berhujjah dengannya. Tersisa sekarang pembahasan dha’if, adapun dha’if jiddan maka tidak boleh diamalkan dan berhujjah dengannya. Hadist dha’if apabila diperkuat dengan hadits dha’if lainnya dapat terangkat kepada status hasan lighoirihi dan apabila terdapat hadits yang menjadi syahid yang menguatkannya, karena sesungguhnya hadits dha’if itu bermakna bahwa kedhaifannya dapat menjadi pulih kembali, berkebalikan dengan hadits dha’if jiddan yang kedha’ifannya tidak dapat pulih kembali. Apabila hadits dha’if memiliki syahid atau mutabi’ (penyerta) yang memperkuatnya maka saat itu (dapat) menjadi hadits dha’if lidzatihi dan hasan lighoirihi lalu terangkat statusnya maka diamalkan dikarenakan statusnya adalah hasan lighoirihi, dan apabila tidak terdapat hadits yang menguatkannya maka hadits itu tetap atas kedha’ifannya dan tidak dapat berhujjah dengannya.”
HUKUM SHOLAT GHAIB
Ditanya Syaikh Muhammad bin ’Abdillah al-Imam hafizhahullahu :
ما حكم الصلاة على الغائب ؟
Apa hukum sholat ghaib?”
Syaikh menjawab :
الصحيح من أقوال العلماء أنه يستحب الصلاة على الغائب بشرط يعلم أنه لم يصل عليه في الديار التي مات فيها كصلاته عليه الصلاة والسلام على النجاشي حين مات بالحبشة كما في الصحيحين . وذلك لأنه كان بديار كفر ولم يؤثر عن الرسول صلى الله عليه وآله وسلم أنه صلى على غيره صلاة الغائب ممن مات خارج المدينة.
Yang benar dari pendapat para ulama adalah disunnahkan sholat ghaib dengan syarat ia mengetahui bahwasanya orang yang mati di suatu negeri belum disholati sebagaimana sholatnya Nabi ’alahi Sholatu wa Salam terhadap Najasyi (Negus) ketika wafat di Habasyah (Abessinia) sebagaimana termaktub dalam Shahihain. Hal ini dikarenakan Najasyi berada di negeri kafir dan belum pernah dilaporkan dari Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Ali wa Salam bahwasanya beliau mensholati selain Najasyi dengan sholat ghaib terhadap orang yang meninggal di luar Madinah.”
BAGAIMANA PERIHAL SYU’AIB AL-ARNA’UTH?
Ditanya Syaikh Muhammad bin ’Abdil Wahhab al-Washobi hafizhahullahu dengan pertanyaan berikut :
السائل يقول: ما حال شعيب الأرنأووط؟ وهل يؤخذ بحكمه على الأحاديث بالصحة أو الضعف؟
Bagaimana perihal Syu’aib al-Arna`uth? Apakah diterima penghukuman beliau kepada hadits-hadits akan keshahihan dan kedha’ifannya?
الجواب: تحقيقاته في الجملة طيبة ويؤخذ بما يحكم به على الحديث صحة وضعفا ، إلا إذا تأكدت أنه في حديث أخطأ فيه فتأخذ بالصحيح لكن إذا لم تجد إلا قوله فلا بأس أن تأخذ به وقد سئل عنه شيخنا مقبل رحمة الله عليه فأفتى بمثل هذا أنه يستفاد من تحقيقاته وأنها في الجملة طيبة إلا فيما يتعلق بموضوع العقيدة فهو منتقد في العقيدة أما من حديث التحقيق والتخريج والحكم على الأحاديث فيشكر على ذلك ونسأل الله أن يهدينا وإياه وجميع المسلمين.
Tahqiq (penelitian) beliau secara umum adalah baik dan boleh diterima penghukumannya terhadap hadits shahih dan tidaknya, kecuali apabila anda menguatkan bahwasanya beliau di dalam suatu hadits telah keliru maka ambillah yang shahih, namun apabila anda tidak menemukan suatu pendapat kecuali hanya pendapatnya, maka tidaklah mengapa mengambil pendapatnya. Guru kami Syaikh Muqbil rahmatullahu ’alayhi pernah ditanya tentangnya (Syu’aib al-Arna`uth) dan beliau menfatwakan yang semisal dengan jawabanku ini, yaitu boleh memetik faidah dari penelitian-penelitian beliau dan bahwasanya beliau ini secara global adalah baik kecuali di dalam masalah yang berkaitan dengan aqidah, dia dikritik dalam masalah aqidah. Adapun dari segi tahqiq (penelitian), takhrij dan penghukuman atas hadits-hadits, beliau bersyukur atasnya. Semoga Alloh memberikan kita dan beliau petunjuk juga terhadap seluruh kaum muslimin.”
APAKAH KHOMR NAJIS?
Ditanya Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin ’Abdillah al-Imam hafizhahullahu :
هل الخمــر نجـس ؟
Apakah khomr itu najis?”
Beliau hafizhahullahu menjawab :
الصحيح من أقوال العلماء أنه طاهر وليس بنجس فقد ذكره الله سبحانه وتعالى مقروناً بالأنصاب والأزلام والميسر وهي طاهرة بلا خلاف . ولما في الصحيحين عن أنس أنها لما حرمت الخمر أهريقت بالأسواق وأسواق المسلمين ليست للنجاسات . وفي مسلم في إراقة الأعرابي الخمر بحضرة رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم وبين يديه .
Yang benar dari pendapat para ulama bahwa khomr itu suci tidak najis. Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan khomr bergandengan dengan al-Anshab (berkorban untuk berhala), al-Azlam (mengundi dengan panah) dan al-Maysir (berjudi) dan kesemuanya ini adalah suci tanpa diperselisihkan lagi. Dan apa yang dijelaskan di dalam Shahihain dari Anas bahwasanya tatkala khomr diharamkan ditumpahkan di pasar-pasar sedangkan pasar-pasar kaum muslimin tidaklah najis. Di dalam riwayat Muslim tentang seorang A’robi (Arab badui) yang menumpahkan khomr di hadapan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam dan khomr pada saat itu ada di tangannya [Maksudnya, apabila khomr itu najis niscaya Rasulullah akan mengingkari si Badui tersebut, pent.].”
BOLEHKAH SHOLAT JUM’AT TANPA MANDI?
Ditanya Fadhitusy Syaikh Muhammad bin ’Abdil Wahhab al-Washobi hafizhahullahu :
سائل يقول : هل يجوز صلاة الجمعة بدون غسل ؟
Bolehkah sholat Jum’at tanpa mandi?”
Syaikh hafizhahullahu menjawab :
يجوز لكن الأفضل أن تغتسل فقد جاءت جملة أحاديث تأمر بغسل يوم الجمعة ومن أهل العلم من يقول بوجوبه والجمهور جمهور أهل العلم على استحبابه فالأفضل أن تحافظ عليه لكن لو حصل أنك صليت جمعة بدون غسل وقد تؤضأت فصلاتك صحيحة إن شاء الله إذا أديتها بأركانها وشروطها وواجباتها.
Boleh, tapi yang lebih afdhal hendaknya anda mandi dulu. Telah datang sejumlah hadits yang memerintahkan untuk mandi pada hari Jum’at, dan sejumlah ulama adalah yang berpendapat akan kewajibannya. Adapun jumhur ulama, mereka berpendapat akan sunnahnya. Yang afdhal adalah menjaga mandi. Akan tetapi apabila terjadi pada anda sholat Jum’at tanpa mandi dan anda telah berwudhu’, maka sholat anda tetap sah insya Alloh selama anda tetap memenuhi rukun-rukun, syarat-syarat dan kewajiban-kewajibannya.”