Jumat, 18 Juli 2014
Suatu saat ada seseorang
sedang berjalan di sebuah padang yang luas tak berair, tiba-tiba dia
mendengar suara dari awan (mendung), "Siramilah kebun si fulan!" maka
awan itu menepi (menuju ke tempat yang ditunjukkan) lalu mengguyurkan
airnya di tanah bebatuan hitam. Ternyata ada saluran air dari
saluran-saluran itu yang telah penuh dengan air. Maka ia menelusuri
(mengikuti) air itu. Ternyata ada seorang laki-laki yang berada di
kebunnya sedang mengarahkan air dengan cangkulnya. Kemudian dia
bertanya, Wahai hamba Allah, siapakah nama anda? Dia menjawab, "Fulan".
Sebuah nama yang didengar dari awan tadi. Kemudian orang itu balik bertanya, "Mengapa anda menenyakan namaku?" Dia menjawab, "Saya mendengar suara dari awan yang ini adalah airnya, mengatakan 'Siramilah kebun si fulan!' yaitu nama anda. Maka apakah yang telah andakerjakan dalam kebun ini?". Dia menjawab, Karena anda telah mengatakan hal ini maka akan saya ceritakanbahwa saya memperhitungkan (membagi) apa yang dihasilkan oleh kebun ini; sepertiganya saya sedekahkan; sepertiganya lagi saya makan bersama keluarga dan sepertiganya lagi saya kembalikan lagi ke kebun (ditanam kembali). (Hadits Riwayat Muslim, dari Abu Hurairah).
Sebuah nama yang didengar dari awan tadi. Kemudian orang itu balik bertanya, "Mengapa anda menenyakan namaku?" Dia menjawab, "Saya mendengar suara dari awan yang ini adalah airnya, mengatakan 'Siramilah kebun si fulan!' yaitu nama anda. Maka apakah yang telah andakerjakan dalam kebun ini?". Dia menjawab, Karena anda telah mengatakan hal ini maka akan saya ceritakanbahwa saya memperhitungkan (membagi) apa yang dihasilkan oleh kebun ini; sepertiganya saya sedekahkan; sepertiganya lagi saya makan bersama keluarga dan sepertiganya lagi saya kembalikan lagi ke kebun (ditanam kembali). (Hadits Riwayat Muslim, dari Abu Hurairah).
Hadits di atas adalah salah satu contoh kisah nyata dari salah satu keutamaan bersodaqah (bersedekah), yaitu Allah (S.W.T.) tidak akan mengurangi rezeki yang kita sedekahkan, dan bahkan Allah (S.W.T.) akan mengganti dan melipat gandakannya.
Sedekah tidak mengurangi Rezeki
Allah (S.W.T.) berfirman dalam surat Saba bahwa Allah (S.W.T.) akan mengganti sedekah yang kita keluarkan:
"Katakanlah: 'Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)'. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya." (Q.S. Saba 34:39)
Secara logika, mungkin kita akan berfikir bahwa harta yang kita keluarkan untuk sedekah berarti pengurangan harta yang ada di tangan kita. Tetapi pa kenyataannya Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda bahwa harta seseorang tidak akan berkurang karena disedekahkan:
"Ada tiga perkara yang saya bersumpah atasnya dan saya memberitahukan kepadamu semua akan suatu Hadits, maka peliharalah itu: Tidaklah harta seseorang itu akan menjadi berkurang sebab disedekahkan, tidaklah seseorang hamba dianiaya dengan suatu penganiayaan dan ia bersabar dalam menderitanya, melainkan Allah menambahkan kemuliaan padanya, juga tidaklah seseorang hamba itu membuka pintu permintaan, melainkan Allah membuka untuknya pintu kemiskinan," (H.R. Tirmidzi, dari Abu Kabsyah, yaitu Umar bin Sa'ad al-Anmari r.a.)
Sedekah membuka pintu rezeki
Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda "Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sedekah." (HR. Al-Baihaqi)
Dalam salah satu hadits Qudsi, Allah Tabaraka wata’ala berfirman: "Hai anak Adam, infaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu." (H.R. Muslim)
Dalam hadits lain yang dinarasikan oleh Abu Hurairah (r.a.), Nabi (S.A.W.) pernah bersabda: "Tidak ada hari yang disambut oleh para hamba melainkan di sana ada dua malaikat yang turun, sala satunya berkata: "Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang-orang yang berinfaq. Sedangkan (malaikat) yang lainnya berkata: "Ya Allah berikanlah kehancuran kepada orang-orang yang menahan (hartanya)." (H.R. Bukhari - Muslim)
Ada satu kisah pada zaman Nabi (S.A.W.) yang mana seseorang yang banyak hutang berdiam di masjid di saat orang-orang bekerja. Ketika ditanya oleh Nabi (S.A.W.), orang tersebut menjawab bahwa ia sedang banyak hutang. Yang menarik adalah Nabi (S.A.W.) mengajarkan beliau sebuah doa, yang mana doa tersebut tidak menyebut sama sekali "Bukakanlah pintu rezeki" atau "Perbanyaklah rezeki saya sehingga bisa membayar hutang". Tetapi doa yang diajarkan oleh Nabi (S.A.W.) adalah meminta perlindungan dari rasa malas dan bakhil (pelit). Hadits-hadits di atas menjelaskan tentang doa ini, bahwa ke-tidak-pelitan seseorang untuk bersedekah membuka pintu rezeki orang tersebut.
Doa tersebut adalah: "Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu daripada kegundahan dan kesedihan, daripada kelemahan dan kemalasan, daripada sifat pengecut dan bakhil (pelit), daripada kesempitan hutang dan penindasan orang."
Sedekah melipat gandakan rezeki
Bukan saja sedekah membuka pintu rezeki seseorang, tetapi bahkan bersedekah juga melipat-gandakan rezeki yang ada pada kita.
Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda: "Barangsiapa bersedekah dengan sesuatu senilai satu buah kurma yang diperolehnya dari hasil kerja yang baik, bukan haram, dan Allah itu tidak akan menerima kecuali yang baik. Maka sesungguhnya Allah akan menerima sedekah orang itu dengan tangan kanannya, sebagai kiasan kekuasaanNya, kemudian memperkembangkan pahala sedekah tersebut untuk orang yang melakukannya, sebagaimana seseorang dari engkau semua memperkembangkan anak kudanya sehingga menjadi seperti gunung - yakni memenuhi lembah gunung karena banyaknya." (Muttafaq 'alaih, dari Abu Hurairah r.a.)
Janji Allah (S.W.T.) dalam Al-Qur'an bahwa Allah akan melipat-gandakan sedekah kita menjadi 700 kali lipat:
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Q.S. Al-Baqarah 2:261)
Sedekah Menjaga Warisan
Rasulullah (S.A.W.) bersabda "Tidaklah seorang yang bersedekah dengan baik kecuali Allah memelihara kelangsungan warisannya." (H.R. Ahmad)
Di dalam Surat Al-Kahfi ada kisah tentang perjalanan Nabi Musa (A.S.) dengan Khidir. Di dalam kisah tersebut Khidir memperbaiki diding rumah dari dua anak yatim, dan menjelaskan bahwa di bawah dinding tersebut ada harta warisan dari orang tua mereka yang soleh. Khidir memperbaiki dinding tersebut agar harta warisan tersebut tetap pada tempatnya sampai sang anak menjadi dewasa. Demikianlah salah satu contoh bagaimana Allah (S.W.T.) melindungi warisan seseorang.
Sedekah adalah Naungan kita di hari kiamat
Rasulullah (S.A.W.) bersabda "Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya." (HR. Ahmad)
Dalam hadist lain, Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda tentang tujuh orang yang diberi naungan oleh Allah (S.W.T.) pada hari yang mana tidak ada naungan kecuali naungan dari-Nya. Salah satu orang yang diberi naungan pada hari itu adalah orang yang bersedekah dengan tangan kanan, tetapi tangan kirinya tidak mengetahuinya.
Sedekah Menjauhkan diri kita dari api neraka
Rasulullah (S.A.W.) bersabda: "Jauhkan
Allah (S.W.T.) juga berfirman bahwa salah satu ciri dari orang yang bertaqwa yang akan masuk surga adalah orang yang bersedekah diwaktu lapang maupun sempit.
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan" (Q.S. Ali Imran 3:133-134).
Sedekah Mengurangi kesakitan kita di sakaratul maut
Dalam buku Fiqh-Us-Sunnah karangan Sayyid Sabiq, disebutkan Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda: "Sedekah meredakan kemarahan Allah dan menangkal (mengurangi) kepedihan saat maut (Sakratulmaut)."
Rasulullah (S.A.W.) juga pernah bersabda, "Sedekah dari seorang Muslim menigkatkan (hartanya) dimasa kehidupannya. Dan juga meringankan kepedihan saat maut (Sakratulmaut), dan melauinya (sedekah) Allah menghilangkan perasaan sombong dan egois. (Fiqh-us-Sunnah vol. 3, hal 97)
Sedekah Mengobati orang sakit
Rasulullah (S.A.W.) bersabda, "Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersedekah dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana." (H.R. Ath-Thabrani)
Sedekah untuk janda dan orang miskin diibaratkan seperti orang yang berpuasa terus menerus
Rasulullah (S.A.W.) bersabda, "Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam. Ia tidak merasa lelah dan ia juga ibarat orang berpuasa yang tidak pernah berbuka." (H.R. Bukhari)
Quality adalah lebih baik dari Quantity
Bersedekah satu dolar bisa jadi lebih baik dari pada bersedekah seratus-ribu dollar. Jika seseorang hanya memiliki dua dollar kemudian disedekahkannya satu dollar maka sedekah tersebut adalah lebih baik dari pada sedekah dari seseorang Billioner tetapi hanya mensedekahkan seratus ribu dollar.
Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda, "Satu dirham memacu dan mendahului seratus ribu dirham". Para sahabat bertanya, "Bagaimana itu?" Nabi (S.A.W.) menjawab, "Seorang memiliki (hanya) dua dirham. Dia mengambil satu dirham dan bersedekah dengannya, dan seorang lagi memiliki harta-benda yang banyak, dia mengambil seratus ribu dirham untuk disedekahkannya. (HR. An-Nasaa'i)
Di bulan Ramadhan yang mulia ini marilah kita perbanyak sedekah kita, berapapun jumlahnya. Jangan sampai kita menunggu kaya raya atau hidup berlebih untuk bersedekah karena hal tersebut adalah bisikan syetan belaka. Terlebih lagi, jangan sampai kita menunggu sampai ruh kita berada di tenggorakan, karena pada saat itu harta kita sudah dipastikan bukan milik kita lagi tetapi sudah menjadi milik ahli waris.
Al quran Rasulullah SAW menganggap Alquran itu sebagai al-Muta'abbadu bi tilawatihi (hal yang dianggap beribadah bila membacanya). Sayang, meski membacanya dianggap sebagai sebuah bentuk ibadah, kita masih sering membaca yang lain ketimbang Alquran.
Bahkan, banyak kaum Muslimin yang bangga telah membaca buku karangan tokoh tertentu. Mereka merasa pandai dan bertambah luas wawasannya setelah menamatkan buku itu. Mereka juga tak merasa berat untuk membeli beragam judul buku atau majalah. Semuanya dibaca tanpa ada yang terlewatkan.
Tapi, jarang sekali mereka mau menyentuh dan membaca Alquran yang jelas mendatang pahala dan rahmat dari Allah. Malah mereka membiarkan Alquran teronggok di lemari atau di rak buku. Lusuh dan berdebu yang menunjukkan bahwa ia jarang dijamah, apalagi dibaca. Andai saja, mereka tahu apa yang dijanjikan Rasulullah SAW tentang pahala membaca Alquran, niscaya mereka tidak akan menyia-nyiakannya.
Dari Abdullah Ibnu Mas'ud RA, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa membaca satu huruf dari kitabullah, maka baginya kebaikan dengan satu huruf itu, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan 10 kali lipat. Aku tidak mengatakan bahwa, “Alif, lam, mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR at-Tirmidzi, dia mengatakan, “Hadis hasan shahih.)”
Subhanallah. Satu huruf Alquran akan berbuah 10 pahala. Maka, jika kita membaca alif, lam, mim, maka kita akan mendapatkan 30 pahala di sisi Allah. Lalu, berapa huruf dalam basmalah, surah al-Fatihah, dan seluruh Alquran?
Karena itu, marilah bersama-sama kita memperbanyak membaca Alquran dan mengamalkannya. Mari kita atur jadwal rutin membaca Alquran setiap hari. Upayakan tak ada satu hari pun yang terlewatkan tanpa membaca Alquran.
Jangan khawatir bagi yang belum lancar atau masih terbata-bata dalam membaca Alquran. Sebab, Allah akan menganugerahkan pahala bagi yang mau berusaha membaca Alquran. Jangan takut dibilang terlambat belajar Alquran walau usia sudah mencapai 50 tahun atau lebih. Sebab, Allah tetap akan memberikan kemudahan bagi siapa saja yang mau belajar dan mengambil pelajaran dari Alquran. (Lihat QS al-Qamar [54]: 17, 22, 32, 40).
Berbahagialah, karena masih diberi kesempatan belajar Alquran. Dan itu jauh lebih baik daripada tidak mau mempergunakan usia yang ada untuk belajar Alquran. Rasul SAW bersabda, “Orang yang mahir membaca Alquran, nanti akan berkumpul bersama-sama para malaikat yang mulia lagi taat. Dan orang yang terbata-bata ketika membaca Alquran dan terasa berat baginya, ia akan mendapatkan dua pahala.” (HR Bukhari dan Muslim).
Ulama besar perintah Allah dalam surat Muhammad ayat 18 tersebut merupakan perintah yang tertuju kepada Muhammad saw berikut umatnya. Lalu apakah semua perintah Allah yang secara khusus tertuju kepada beliau juga berlaku kepada umat? Tidak pasti demikian. Tetapi harus melihat kepada qarinah atau petunjuk yang menyertainya.
Para ulama membagi pesan atau perintah Allah kepada Rasul saw dalam Alquran menjadi tiga :
1. Yang secara khusus tertuju kepada beliau; tidak berlaku kepada umat.
Misalnya QS al-A'raf: 158 yang artinya, "Katakan (wahai Muhammad), 'Aku adalah Rasul Allah untuk kalian semua.'" Perintah untuk mendeklarasikan diri sebagai rasul atau utusan Allah dalam ayat di atas hanya berlaku untuk beliau; tidak untuk umatnya.
2. Yang tertuju kepada beliau dan juga kepada umatnya sbb didalamnya terdapat kewajiban yang juga harus dilakukan oleh umatnya di mana ia berlaku secara umum.
Misalnya: "Katakanlah, 'Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan pada kami." (QS Ali Imran: 84). Perintah beriman kepada Allah tentu berlaku kepada beliau dan umat. Atau dalam surat at-Tahrim 1-2 yang artinya, "Wahai Nabi mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah halalkan... Allah telah menetapkan kepada kalian..." Awalnya dimulai dengan pesan khusus kepada Nabi saw. Namun kemudian di ayat kedua ada kata "kepada kalian." yang mencakup seluruh kaum muslimin. Sehingga menurut para mufassir ayat tersebut berlaku kepada kita dan kepada beliau.
3. Yang tidak tertuju kepada beliau, namun kepada umatnya. Penyebutan beliau hanya sebagai penguat.
Misalnya dalam surat QS al-Isra 23 terkait perintah untuk berbakti kepada kedua orang tua dan berbuat baik kepadanya, Padahal ketika ayat ini turun orang tua beliau telah tiada. Jadi meski beliau disebutkan dalam ayat tersebut tetapi sebetulnya yang dituju bukan beliau; namun umatnya.
Dengan demikian jelas bahwa tidak semua perintah dan pesan Allah kepada beliau selalu tertuju kepada beliau dan umat secara bersamaan. Namun ada yang hanya tertuju kepada beliau, ada yang tertuju kepada beliau berikut umatnya; dan ada pula yang sebetulnya hanya tertuju kepada umat.
ULAMA MAKKAH Setiap kaum Muslimin mengetahui, Mekkah merupakan tempat yang sangat mulia. Setiap muslim memiliki impian untuk bisa menjejakkan kaki di kota itu. Baik untuk mengerjakan ibadah haji ataupun umrah saja. Kerinduan bertandang ke sana tetap besar, terlebih bagi orang yang pernah merasakan kenikmatan berada di kota suci tersebut.
Keutamaan yang disandang kota suci Mekkah, dapat dilihat dalam dalil-dalil Qur`an ataupun as Sunnah shahihah. Kota Mekkah tidak seperti kota-kota lain di atas bumi ini. Kota ini menyandang kemuliaan dan kehormatan, yang tidak direguk oleh tempat lainnya, sekalipun Madinah. Berikut beberapa dalil yang menunjukkan kemulian kota tersebut.
1. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menetapkan Mekkah sebagai kota suci, yakni sejak penciptaan langit dan bumi. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda pada hari penaklukan kota Mekkah :
إِنَّ هَذَا الْبَلَدَ حَرَّمَهُ اللَّهُ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فَهُوَ حَرَامٌ بِحُرْمَةِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
"Sesungguhnya kota ini, Allah telah memuliakannya pada hari penciptaan langit dan bumi. Ia adalah kota suci dengan dasar kemuliaan yang Allah tetapkan sampai hari Kiamat ". [1]
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَٰذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
"Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekkah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri" [an Naml/27:91].
Dengan seizin Allah, Mekkah akan tetap dalam perlindunganNya, dan menjadi negeri aman tenteram. Hal ini sebagai wujud Allah telah mengabulkan doa Nabi Ibrahim. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata : "Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Mekkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala". [Ibrahim/14:35]
Perlindungan Allah terhadap kota Mekkah, dan khususnya Ka'bah, telah dibuktikan. Sebagai contoh, Allah telah menjaga Ka'bah dari serbuan pasukan gajah pimpinan Raja Abrahah yang bertekad menghancurkannya.
2. Kota Mekkah, merupakan tempat yang paling dicintai oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Seandainya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak terusir dari kota itu, niscaya beliau tidak akan meninggalkannya. Ini tercermin dari sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :
وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ
"Demi Allah. Engkau adalah sebaik-baik bumi, dan bumi Allah yang paling dicintaiNya. Seandainya aku tidak terusir darimu, aku tidak akan keluar (meninggalkanmu)" [2]
3. Shalat di kota Mekkah, terlebih di Masjidil Haram memiliki derajat nilai sangat tinggi, sebanding dengan seratus ribu shalat di tempat lain. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
صَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ
"Satu shalat di Masjidil Haram, lebih utama dibandingkan seratus ribu shalat di tempat lainnya". [HR Ahmad, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh al Albani]
Begitu pula masjid-masjid yang berada dalam batas tanah haram, kendatipun tidak mendapatkan fadhilah pahala sebesar sebagaimana tertera dalam hadits, tetapi shalat di dalamnya lebih afdhal, dibandingkan shalat di luar tanah haram.
Dalilnya, seperti telah diterangkan oleh Syaikh al 'Utsaimin, bahwa ketika Rasulullah berada di Hudaibiyah yang sebagian berada dalam wilayah tanah suci dan sebagian lainnya tidak, maka apabila mengerjakan shalat, maka beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berada di bagian yang masuk tanah suci. Ini menunjukkan, shalat di tanah haram lebih utama, namun tidak menunjukkan diraihnya keutamaan shalat di masjid Ka’bah.[3]
Dengan keutamaan yang dimilikinya, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menetapkan hukum-hukum khusus berkaitan dengan kota Mekkah yang sarat dengan berkah ini. Beberapa hukum berkaitan dengan kota Mekkah, di antaranya :
a. Orang kafir diharamkan memasuki kota Mekkah.
Allah berfirman dalam surat at Taubah ayat 28 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَٰذَا
"Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini …(tahun penaklukan kota Mekkah)"
Imam al Qurthubi berkata : "Diharamkan memberikan keleluasaan kepada orang musyrik untuk masuk tanah Haram. Apabila ia datang, hendaknya imam (penguasa) mengajaknya keluar wilayah tanah Haram untuk mendengarkan apa yang ingin ia sampaikan. Seandainya ia masuk dengan sembunyi-sembunyi dan kemudian mati, maka kuburnya harus dibongkar dan tulang-belulangnya dikeluarkan". [4]
b. Di kota Mekkah, siapapun dilarang berbuat maksiat.
Perbuatan maksiat di kota Mekkah, dosanya sangat besar daripada di tempat lain. Allah berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِي جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ ۚ وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidilharam yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zhalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih" [al Hajj/22:25] [5]
Ayat ini, menurut penjelasan Syaikh as Sa’di, mengandung kewajiban untuk menghormati tanah Haram, keharusan mengagungkannya dengan pengagungan yang besar, dan menjadi peringatan bagi yang ingin berbuat maksiat.[6]
c. Di tanah Mekkah diharamkan binatang buruan ataupun berusaha untuk mengejarnya, juga dilarang menebang pohon liar, memotong durinya, ataupun mencabut rerumputannya.
d. Barang temuan di tanah Haram tidak boleh diambil, kecuali bagi orang yang akan mengumumkannya selama-lamanya.
Dalil yang menunjukkan point (c) dan (d), yaitu sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :
لَا يُعْضَدُ شَوْكُهُ وَلَا يُنَفَّرُ صَيْدُهُ وَلَا يَلْتَقِطُ لُقَطَتَهُ إِلَّا مَنْ عَرَّفَهَا وَلَا يُخْتَلَى خَلَاهُ فَقَالَ الْعَبَّاسُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِلَّا الْإِذْخِرَ فَإِنَّهُ لِقَيْنِهِمْ وَلِبُيُوتِهِمْ قَالَ إِلَّا الْإِذْخِرَ
"Tidak boleh dipatahkan durinya, tidak boleh dikejar hewan buruannya, dan tidak boleh diambil barang temuannya, kecuali bagi orang yang ingin mengumumkannya, dan tidak dicabut rerumputannya. Al 'Abbas berkata,"Kecuali rumput idkhir, wahai Rasulullah." [Mutafaqun ‘alaih]
ULAMA MADINAH Madinah An-Nabawiyyah, telah menyimpan
banyak kenangan bersejarah yang tidak akan terlupakan dalam sendi
kehidupan kaum muslimin. Di sanalah tonggak jihad fi sabilillah mulai
dipancangkan di bawah naungan nubuwwah dalam rangka meninggikan kalimat
Allah ‘azza wajalla di muka bumi dan memadamkan api kesombongan dan
keangkaramurkaan kaum musyrikin.
Semakin tumbuh dan berkembang kota tersebut sebagai ibukota sebuah negara Islam yang baru lahir, di bawah pimpinan insan terbaik yang terlahir di muka bumi. Kota Madinah menjadi pusat penggemblengan pahlawan-pahlawan Islam yang akan meneruskan tongkat estafet jihad fi sabilillah dan para ulama yang akan menyebarkan dakwah Islam di seluruh penjuru negeri.
Seiring dengan pergantian waktu, namanya pun semakin bertambah harum semerbak laksana mawar yang sedang tumbuh merekah dengan warnanya yang indah dan menawan. Halaqah-halaqah ilmu tumbuh semarak dan berkembang dengan sangat pesatnya mewarnai kehidupan kaum muslimin. Dengan di bawah bimbingan para ulama shahabat yang telah mendapatkan warisan ilmu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lahirlah melalui tangan mereka, generasi terbaik kedua umat ini, yaitu generasi Tabi’in, yang berhasil mewarisi ilmu dari para shahabat sehingga mereka benar-benar menjadi tokoh terkemuka dalam ilmu dan amal.
Kota Madinah pun menjadi impian, dambaan, dan angan-angan para penuntut ilmu di seluruh penjuru negeri untuk bisa mereguk manisnya warisan nubuwwah. Satu di antara sekian buah usaha pendidikan dan bimbingan para sahabat, lahirlah di sana sejumlah ulama yang dikenal dengan sebutan Al-Fuqaha’ As-Sab’ah yang mumpuni dalam hal ilmu dan amal. Mereka itu adalah:
1. Sa’id bin Al-Musayyib
2. ‘Urwah bin Az-Zubair bin Al-’Awwam
3. Sulaiman bin Yasar
4. Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr
5. Abu Bakr bin ‘Abdirrahman
6. Kharijah bin Zaid
7. ‘Ubaidullah bin Abdillah bin ‘Utbah bin Mas’ud
Mereka adalah tujuh orang ulama kota
Madinah yang keluasan ilmunya tidak saja diakui oleh penduduk negeri
tersebut namun diakui pula oleh para ulama di seluruh penjuru negeri.
Dikatakan oleh seorang penyair:Semakin tumbuh dan berkembang kota tersebut sebagai ibukota sebuah negara Islam yang baru lahir, di bawah pimpinan insan terbaik yang terlahir di muka bumi. Kota Madinah menjadi pusat penggemblengan pahlawan-pahlawan Islam yang akan meneruskan tongkat estafet jihad fi sabilillah dan para ulama yang akan menyebarkan dakwah Islam di seluruh penjuru negeri.
Seiring dengan pergantian waktu, namanya pun semakin bertambah harum semerbak laksana mawar yang sedang tumbuh merekah dengan warnanya yang indah dan menawan. Halaqah-halaqah ilmu tumbuh semarak dan berkembang dengan sangat pesatnya mewarnai kehidupan kaum muslimin. Dengan di bawah bimbingan para ulama shahabat yang telah mendapatkan warisan ilmu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lahirlah melalui tangan mereka, generasi terbaik kedua umat ini, yaitu generasi Tabi’in, yang berhasil mewarisi ilmu dari para shahabat sehingga mereka benar-benar menjadi tokoh terkemuka dalam ilmu dan amal.
Kota Madinah pun menjadi impian, dambaan, dan angan-angan para penuntut ilmu di seluruh penjuru negeri untuk bisa mereguk manisnya warisan nubuwwah. Satu di antara sekian buah usaha pendidikan dan bimbingan para sahabat, lahirlah di sana sejumlah ulama yang dikenal dengan sebutan Al-Fuqaha’ As-Sab’ah yang mumpuni dalam hal ilmu dan amal. Mereka itu adalah:
1. Sa’id bin Al-Musayyib
2. ‘Urwah bin Az-Zubair bin Al-’Awwam
3. Sulaiman bin Yasar
4. Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr
5. Abu Bakr bin ‘Abdirrahman
6. Kharijah bin Zaid
7. ‘Ubaidullah bin Abdillah bin ‘Utbah bin Mas’ud
إِذَا قِيْلَ مَنْ فِي الْعِلْمِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ رِوَايَتُهُمْ لَيْسَتْ عَنِ الْعِـلْمِ خَارِجَةْ
فَقُلْ هُمْ عُبَيْدُ اللهِ عُرْوَةٌ قَاسِـمٌ سَعِيْدٌ أَبُوْبَكْرٍ سُلَيْـمَانُ خَـارِجَةْ
Jika dikatakan siapa (yang keluasan) ilmunya (seperti) tujuh lautan
Riwayat mereka tidak keluar dari ilmu
Katakanlah mereka itu adalah ‘Ubaidullah, Urwah, Qasim
Sa’id, Abu Bakr, Sulaiman, dan Kharijah
Dengan memohon pertolongan kepada Allah ta’ala, berikut ini akan kami sebutkan biografi singkat mereka satu persatu, Insya Allah kami akan menampilkannya secara bersambung, dimulai dengan Sa’id bin Al-Musayyib, penghulu para Tabi’in, dengan harapan agar kita semua bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari ilmu dan amalan yang mereka miliki sehingga kita bisa meneladaninya dalam kehidupan kita di zaman sekarang.
Sa’id bin Al Musayyib (Penghulu Para Tabi’in)
Kunyah dan Nama Lengkap Beliau
Beliau memiliki kunyah dan nama lengkap sebagai berikut:
Abu Muhammad Sa’id bin Al-Musayyib bin Hazn bin Abi Wahb bin ‘Amr bin A’idz bin ‘Imran bin Makhzum bin Yaqzhah Al-Qurasyi Al-Makhzumi Al-Madani.
Dialah seorang yang ‘alim dari kalangan penduduk Madinah, seorang tokoh tabi’in pada zamannya, seorang yang ahli dalam bidang fiqh pada masanya, satu dari tujuh tokoh ulama ahli fiqh yang terkenal dalam sejarah Islam dan bahkan termasuk dari pemimpin para ulama. Beliau menempati thabaqah kedua yang dikenal di kalangan ahlul hadits adalah thabaqahnya tokoh-tokoh besar tabi’in. Adapun para shahabat, mereka berada pada thabaqah pertama.
Dilahirkan di kota Madinah, dua tahun sejak ‘Umar bin Al-Khaththab mulai memegang tampuk kekhilafahan, beliau adalah seorang yang memiliki kepribadian yang bersahaja. Kepala dan jenggot beliau berwarna putih dan beliau sangat menyenangi pakaian yang berwarna putih. Salah seorang shahabat beliau pernah mengatakan: “Aku belum pernah melihat Sa’id memakai pakaian selain pakaian putih.”
Keilmuan, Ibadah, dan Akhlak Beliau
Beliau berjumpa dengan banyak sahabat dan meriwayatkan hadits dari mereka, di antaranya adalah ‘Umar bin Al-Khaththab, ‘Utsman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Al-’Asy’ari, Sa’d bin Abi Waqqash, ‘Aisyah binti Abi Bakr, Abu Hurairah, ‘Abdullah bin ‘Abbas, Muhammad bin Maslamah, Ummu Salamah, ‘Abdullah bin ‘Umar, Sa’d bin Ubadah, Abu Dzarr Al-Ghifari, Ubay bin Ka’b, Bilal bin Abi Rabah, Abu Darda’, Ummu Syuraik, Hakim bin Hizam, ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash, Abu Sa’id Al-Khudri, Hassan bin Tsabit, Shuhaib Ar-Rumi, Shafwan bin ‘Umayyah, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan yang lainnya.
Beliau adalah orang yang paling mengetahui hadits-hadits yang disampaikan Abu Hurairah dan beliaulah yang menikahi putrinya.
Dan di antara ulama yang meriwayatkan hadits dari beliau adalah Al-Imam Az-Zuhri, Qatadah, ‘Amr bin Dinar, Yahya bin Sa’id Al-Anshori, Syarik bin Abi Namir, ‘Abdurrahman bin Harmalah, ‘Atha Al-Khurasani, Maimun bin Mihran, dan yang lainnya.
Beliau adalah seorang yang memiliki kelebihan dan keutamaan dalam ilmu dan amal. Tentang kelebihan yang dimiliki oleh beliau dalam hal ilmu, sebagaimana digambarkan berikut:
Para ulama mengakui bahwasanya beliau memang seorang mufti (pemberi fatwa) di zamannya dalam keadaan para shahabat bahkan para pembesar shahabat masih hidup di tengah-tengah kaum muslimin pada zaman tersebut.[1]
Fatwa-fatwa beliau dalam berbagai permasalahan selalu menjadi bahan rujukan kaum muslimin dan selalu dikedepankan dalam menyelesaikan berbagai problem umat. Dan di kalangan para fuqaha’ (ahli dalam masalah fiqih), beliau adalah seorang yang sangat pandai dalam bidang fiqih dan hasil pemikiran-pemikiran beliau selalu mendapat tempat yang mulia di hati kaum muslimin di samping beliau pun menguasai sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dahulu, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz sewaktu masih menjabat sebagai gubernur di kota Madinah, tidaklah dia berani memutuskan suatu perkara kecuali setelah menanyakan terlebih dahulu perkara tersebut kepada Sa’id bin Al Musayyib.
Suatu ketika ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz mengalami suatu masalah yang sangat membutuhkan jawaban dan solusi yang cepat dan tepat. Maka beliau mengutus salah seorang utusan untuk menanyakan masalah tersebut kepada Sa’id bin Al-Musayyib. Alkisah sang utusan tersebut berhasil membawa beliau ke hadapan ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz. Melihat kedatangan Sa’id bin Al Musayyib, terkejutlah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz dan rona wajahnya pun berubah menunjukkan rasa malu kepada beliau. Maka berkatalah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz: “Aku meminta maaf kepadamu wahai Sa’id atas kesalahpahaman utusanku. Sebenarnya aku mengutus dia adalah untuk menanyakan kepadamu tentang suatu masalah di majelismu dan bukan untuk menyuruh engkau untuk hadir di hadapanku.”
Dikisahkan pula bahwasanya beliau diberikan kelebihan oleh Allah ‘azza wajalla berupa ilmu tentang tabir mimpi (menafsirkan mimpi seseorang) sebagaimana kemampuan yang telah Allah ta’ala berikan kepada Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Beliau mempelajari ilmu ini dari shahabiyah Asma’ bintu Abi Bakr Ash- Shiddiq, dan Asma’ mengambil ilmu tersebut dari ayahnya yaitu Abu Bakr Ash-Shiddiq. Tentang masalah ini, dikisahkan sebagai berikut:
Telah datang seorang laki-laki kepada beliau menceritakan tentang mimpinya:
“Dalam mimpiku seakan-akan aku melihat ‘Abdul Malik bin Marwan[2] kencing di arah kiblat masjid Nabawi sebanyak 4 kali.” Maka Sa’id berkata: “Kalau mimpimu memang benar seperti itu maka tafsirannya adalah sebagai berikut: sesungguhnya akan lahir dari sulbi ‘Abdul Malik bin Marwan 4 orang khalifah.”[3]
Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib menceritakan bahwasanya beliau melihat dalam mimpinya seakan-akan di antara kedua matanya tertulis ayat:
قل هو الله أحد
maka dia dan keluarganya gembira dengan mimpi tersebut. Maka diceritakanlah mimpi tersebut kepada Sa’id bin Al-Musayyib. Beliau berkata menafsirkan mimpi tersebut: “Kalau memang benar mimpi yang engkau ceritakan, maka ajalmu tinggal sebentar lagi.” Dan Al Hasan bin Ali pun meninggal tidak lama setelah itu.
Seseorang menceritakan mimpinya kepada beliau: “Aku melihat dalam mimpiku seorang wanita cantik berada di atas puncak menara.” Kemudian beliau menafsirkannya bahwa Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi akan menikahi anak perempuan ‘Abdullah bin Ja’far.
Seseorang berkata kepada beliau: “Wahai Abu Muhammad, aku melihat dalam mimpiku seakan-akan aku berada di sebuah tempat yang teduh kemudian aku berdiri di bawah sinar matahari.” Beliau berkata: “Jika memang mimpimu tersebut benar, maka sungguh engkau akan keluar dari Islam.” Kemudian orang itu berkata lagi : “Wahai Abu Muhammad, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku tersebut aku dipaksa keluar dari tempat yang teduh ke tempat terik matahari, maka aku duduk di bawahnya.” Beliau berkata: “Engkau akan dipaksa untuk keluar dari Islam.” Maka orang tersebut ditawan oleh musuh dalam suatu pertempuran dan dipaksa untuk murtad namun kemudian kembali kepada Islam.
Seseorang menceritakan kepada beliau bahwa dalam mimpinya dia melihat seakan-akan dia masuk ke dalam api. Kata beliau : “Engkau tidak akan mati sampai engkau bisa mengarungi lautan, dan engkau mati dalam keadaan terbunuh.” Maka orang tersebut pergi mengarungi lautan dan telah dekat masa kematian baginya.
Dia terbunuh pada peristiwa Qudaid yaitu sebuah tempat yang terletak antara Makkah dan Madinah. Di tempat itulah pada tahun 130 H pernah terjadi pertempuran hebat yang memakan banyak korban antara penduduk Madinah dengan pasukan Abu Hamzah Al-Khariji.
Beliau juga merupakan teladan di dalam semangatnya menuntut ilmu. Beliau pernah berkata: “Aku pernah melakukan perjalanan sehari semalam hanya untuk mendapatkan satu hadits saja.”
Dan tidak kalah pula, beliau adalah seorang yang sangat semangat dalam beribadah kepada Allah ‘azza wajalla. Beliau pernah mengatakan: “Aku tidak pernah tertinggal shalat jama’ah sejak 40 tahun yang lalu.” Beliau juga berkata: “Tidaklah seorang muadzdzin mengumandangkan adzan sejak 30 tahun yang lalu kecuali aku telah berada di masjid.” Beliau juga sangat rajin dan istiqamah dalam melaksanakan ibadah puasa. Dan selama hidupnya beliau telah melaksanakan ibadah haji sebanyak 40 kali.
Beliau adalah seorang ulama yang terkenal wara’. Tentang wara’nya beliau ini, pernah disebutkan dalam sebuah riwayat bahwasanya beliau mendapatkan tawaran gaji tunjangan dari Baitul Mal (kas negara) sebanyak 30 ribu lebih. Namun beliau menolak tawaran tersebut seraya berkata: “Aku tidak membutuhkan terhadap harta tersebut.”
Beliau pernah mengatakan: “Barangsiapa yang merasa cukup dengan Allah maka manusia akan butuh kepadanya.”
Beliau juga mendapati masa berkuasanya gubernur Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi di wilayah Irak. Dia adalah seorang penguasa yang kejam dan bengis pada masa itu. Ribuan kaum muslimin dan para ulama menjadi korban keberingasannya. Sangat sedikit sekali di antara kaum muslimin dan para ulama yang selamat dari tangannya. Dan di antara para ulama yang selamat dari keberingasannya adalah Sa’id bin Al-Musayyib. Sampai-sampai ada salah seorang yang bertanya kepada beliau: “Ada apa sebenarnya dengan Al-Hajjaj, kenapa dia tidak pernah memanggilmu untuk menghadap kepadanya, dan dia tidak pernah mengganggumu dan menyakitimu?” Beliau berkata: “Demi Allah aku tidak tahu, kecuali dulu aku pernah melihat dia (Al-Hajjaj) suatu hari masuk ke masjid bersama bapaknya, kemudian dia melaksanakan shalat tetapi dia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya dengan baik. Maka aku mengambil batu kerikil dan aku lemparkan ke arahnya sebagai isyarat agar dia menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.” Maka sejak saat itu Al-Hajjaj pun memperbagus shalatnya. Jadi seakan-akan Al-Hajjaj berhutang budi kepada beliau atas nasehat dan tegurannya dalam memperbaiki cara shalatnya, oleh karena itulah beliau aman dari gangguannya.
Pujian Para ‘Ulama kepada Beliau
‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallau ‘anhu berkata: “Sa’id bin Al-Musayyib -demi Allah- adalah termasuk dari para mufti (ahli fatwa).”
Qatadah, Mak-hul, Az-Zuhri, dan yang lainnya berkata: “Tidaklah aku melihat seorang yang lebih alim daripada Sa’id bin Al-Musayyib.”
‘Ali bin Al-Madini berkata: “Aku tidaklah mengetahui salah seorang dari kalangan tabi’in yang lebih luas ilmunya daripada Sa’id bin Al-Musayyib. Dan dia menurutku adalah seorang tabi’in yang paling mulia.”
Maimun bin Mihran berkata: “Aku datang ke kota Madinah, maka aku bertanya kepada penduduk Madinah siapa orang yang paling pandai di antara mereka. Maka mereka pun mengarahkanku kepada Sa’id bin Al-Musayyib.”
Inilah perkataan Maimun bin Mihran -seorang tabi’in- dalam keadaan di kota tersebut masih ada ‘Abdullah bin ‘Abbas dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum.[4]
‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz berkata: “Tidaklah ada seorang alim pun di kota Madinah kecuali ia mendatangiku dengan ilmunya, adapun aku, maka aku mendatangi Sa’id bin Al-Musayyib karena sesuatu yang ada pada sisinya berupa ilmu.”
Cobaan yang Menimpa Beliau
Telah menjadi sunnatullah bahwasanya setiap manusia yang hidup di muka bumi pasti akan mengalami cobaan atau musibah. Allah ta’ala berfirman:
الم أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا وهم لا يفتنون.
“Alif Laam Miim, Apakah manusia mengira bahwasanya mereka akan dibiarkan untuk mengatakan bahwa kami telah beriman sementara mereka belum diuji.” (Al-’Ankabut: 1-2).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إن من أشد الناس بلاء الأنبياء ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم.
“Orang yang paling keras cobaannya adalah dari kalangan para nabi kemudian orang yang berikutnya (semisalnya), kemudian orang yang berikutnya (semisalnya), dan kemudian orang yang berikutnya (semisalnya).”
Diceritakan bahwa pada masa kekhilafahan dipegang oleh shahabat ‘Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma, beliau mewakilkan kota Madinah kepada Jabir bin Al-Aswad Az-Zuhri. Dia (Jabir) menyeru manusia untuk berbaiat kepada ‘Abdullah bin Az-Zubair. Maka berkatalah Sa’id: “Aku tidak mau berbaiat sampai manusia semuanya sepakat untuk membaiatnya.” Maka beliau pun dicambuk sebanyak 60 cambukan. Sampailah kabar tersebut kepada ‘Abdullah bin Az-Zubair dan beliau pun menulis surat celaan kepada Jabir dan memerintahkan untuk membiarkan Sa’id bin Al-Musayyib.
Kemudian pula di masa berkuasanya khalifah Al-Walid bin ‘Abdil Malik dan Sulaiman bin ‘Abdil Malik. Beliau diminta untuk berbaiat kepada keduanya namun beliau tidak segera menyambutnya dan menunggu situasi kondusif terlebih dahulu. Maka beliau dicambuk sebanyak 60 cambukan dan diarak di hadapan masyarakat dalam keadaan hanya memakai celana kemudian setelah itu dijebloskan ke dalam penjara.
Kemudian pula beliau pernah disiksa oleh ‘Abdul Malik bin Marwan berupa cambukan sebanyak 50 kali kemudian dijemur di panas matahari dalam keadaan hanya memakai celana.
Dan bentuk cobaan lain yang menimpa beliau adalah pemerintah yang berkuasa pada saat itu melarang kaum muslimin untuk duduk bermajelis dengan beliau.
Namun beliau menghadapi semua itu dengan penuh kesabaran dan selalu mengharap datangnya pertolongan dari Allah subhanahu wata’ala.
Wafat Beliau
Beliau wafat pada tahun 94 Hijriyah karena sakit keras yang menimpanya. Dan tahun tersebut dikenal sebagai tahun Fuqaha’, karena banyaknya para fuqaha’ yang meninggal pada tahun tersebut. Semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan ampunan dan rahmat-Nya kepada beliau.
ULAMA YAMAN MEMBACA AL-FATIHAH
Ditanya Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin ‘Abdillah al-Imam hafizhahullahu dengan pertanyaan berikut :
ما حكم القراءة للمأموم في الصلاة الجهرية ؟
“Apa hukum membaca (surat al-Fatihah, pent) bagi seorang makmum ketika sholah Jahriyah?”
الصحيح من أقوال العلماء أنه يجب عليه قراءة الفاتحة لما في الصحيحين عن عبادة بن الصامت قال : قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : (لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب) وهذا عام يشمل الإمام والمأموم ويشمل الصلاة الجهرية والسرية . ولما في مسلم عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : (من لم يقرأ بفاتحة الكتاب فصلاته خداج غير تمام) . ولما روي أبو يعلي عن أنس قال : قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : (أتقرؤون خلف الإمام والإمام يقرأ ؟ فقالوا : إنا لنفعل . قال : لا تفعلوا ليقرأ أحدكم بفاتحة الكتاب في نفسه) وسنده حسن . وأما ما رواه مسلم أن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم قال : (وإذا قرأ فأن فأنصتوا) فقد أعلها بعض الحفاظ بالشذوذ . وأيضاً هذا عام خصه الأحاديث السابقة الدالة على قراءة الفاتحة .
Syaikh hafizhahullah menjawab :
“Yang benar dari pendapat para ulama adalah wajib bagi seorang makmum membaca al-Fatihah sebagaimana hadits di dalam Shahihain dari ‘Ubadah bin Shamit -radhiyallahu ‘anhu-, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Alihi wa Salam bersabda : “Tidak ada sholat bagi yang tidak membaca surat al-Fatihah.” Hadits ini umum, mencakup imam maupun makmum dan mencakup sholat jahriyah maupun siriyah. Dan Sebagaimana hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Alihi wa Salam bersabda : “Barangsiapa yang tidak membaca surat al-Fatihah maka sholatnya kurang tidak sempurna.” Sebagaimana pula diriwayatkan oleh Abu Ya’la dari Anas yang berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Alihi wa Salam bersabda : “Apakah kalian membaca di belakang imam sedangkan imam sedang membaca?” Para sahabat menjawab : “(Iya) sesungguhnya kami melakukannya.” Lalu Nabi bersabda : “Janganlah kalian melakukannya, hendaklah tiap-tiap kalian membaca al-Fatihah sendiri-sendiri.” Dan sanad hadits ini hasan. Adapun yang diriwayatkan oleh Muslim bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Alihi wa Salam bersabda : “Apabila (imam) membaca maka kalian hendaklah diam.” Sebagian huffazh mencacat hadits ini dengan (menilainya sebagai hadits) syadz, dan juga hadits ini umum, dikhususkan dengan hadits-hadits sebelumnya yang menunjukkan akan dibacanya al-Fatihah.”
HUKUM BERAMAL DENGAN HADITS DHA’IF
Ditanya Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab al-Washobi hafizhahullahu dengan pertanyaan berikut :
سائل يقول: ما حكم العمل بالحديث الضعيف ؟
“Apa hukumnya beramal dengan hadits dha’if?”
Syaikh hafizhahullah menjawab :
الجواب: كما تعلمون أن الحديث ينقسم إلى ثلاثة أقسام : صحيح
، حسن ، ضعيف وأن الصحيح ينقسم إلى قسمين صحيح لذاته ، وصحيح لغيره، وأن
الحسن ينقسم كذلك إلى قسمين حسن لذاته ، وحسن لغيره ، وأن الضعيف أيضاً
ينقسم إلى قسمين إلى ضعيف ، وإلى ضعيف جداً ، فالصحيح لذاته والصحيح لغيره
والحسن لذاته والحسن لغيره كل هذه يعمل بها ويحتج بها، يبقى موضوع الضعيف
أما الضعيف جداً فهذا لا يعمل به ولا يحتج به والضعيف إذا شُدّ بضعيف آخر
فارتقى إلى درجة الحسن لغيره إذا وجد ما يشهد له ما يعضده فإن الضعيف معناه
أن ضعفه منجبر بخلاف لو كان ضعيف جداً ضعفه ما ينجبر فإذا وجد للضعيف ما
يشهد له شاهد أو متابع فحينئذ يكون ضعيفاً لذاته ويكون حسناً لغيره فيرتقي
فيعمل به لأنه حسن لغيره وإذا لم يجد ما يعضده فيبقى على ما هو عليه ضعيف
لا يحتج به .
”Sebagaimana yang kalian fahami, bahwa hadits itu terbagi menjadi tiga macam : shahih, hasan dan dha’if. Shahih sendiri terbagi menjadi dua yaitu shahih lidzaatihi dan shahih lighoirihi. Hasan juga terbagi menjadi dua yaitu hasan lidzaatihi dan hasan lighoirihi. Dha’if sendiri juga ada dua macam, yaitu dha’if dan dha’if jiddan (lemah sekali). Hadits yang shahih lidzatihi, shahih lighoirihi, hasan lidzatihi dan hasan lighoirihi semuanya diamalkan dan berhujjah dengannya. Tersisa sekarang pembahasan dha’if, adapun dha’if jiddan maka tidak boleh diamalkan dan berhujjah dengannya. Hadist dha’if apabila diperkuat dengan hadits dha’if lainnya dapat terangkat kepada status hasan lighoirihi dan apabila terdapat hadits yang menjadi syahid yang menguatkannya, karena sesungguhnya hadits dha’if itu bermakna bahwa kedhaifannya dapat menjadi pulih kembali, berkebalikan dengan hadits dha’if jiddan yang kedha’ifannya tidak dapat pulih kembali. Apabila hadits dha’if memiliki syahid atau mutabi’ (penyerta) yang memperkuatnya maka saat itu (dapat) menjadi hadits dha’if lidzatihi dan hasan lighoirihi lalu terangkat statusnya maka diamalkan dikarenakan statusnya adalah hasan lighoirihi,
dan apabila tidak terdapat hadits yang menguatkannya maka hadits itu
tetap atas kedha’ifannya dan tidak dapat berhujjah dengannya.”
HUKUM SHOLAT GHAIB
Ditanya Syaikh Muhammad bin ’Abdillah al-Imam hafizhahullahu :
ما حكم الصلاة على الغائب ؟
”Apa hukum sholat ghaib?”
Syaikh menjawab :
الصحيح
من أقوال العلماء أنه يستحب الصلاة على الغائب بشرط يعلم أنه لم يصل عليه
في الديار التي مات فيها كصلاته عليه الصلاة والسلام على النجاشي حين مات
بالحبشة كما في الصحيحين . وذلك لأنه كان بديار كفر ولم يؤثر عن الرسول صلى الله عليه وآله وسلم أنه صلى على غيره صلاة الغائب ممن مات خارج المدينة.
”Yang benar dari pendapat para ulama adalah disunnahkan sholat ghaib dengan syarat ia mengetahui bahwasanya orang yang mati di suatu negeri belum disholati sebagaimana sholatnya Nabi ’alahi Sholatu wa Salam terhadap Najasyi (Negus) ketika wafat di Habasyah (Abessinia) sebagaimana termaktub dalam Shahihain. Hal ini dikarenakan Najasyi berada di negeri kafir dan belum pernah dilaporkan dari Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Ali wa Salam bahwasanya beliau mensholati selain Najasyi dengan sholat ghaib terhadap orang yang meninggal di luar Madinah.”
BAGAIMANA PERIHAL SYU’AIB AL-ARNA’UTH?
Ditanya Syaikh Muhammad bin ’Abdil Wahhab al-Washobi hafizhahullahu dengan pertanyaan berikut :
السائل يقول: ما حال شعيب الأرنأووط؟ وهل يؤخذ بحكمه على الأحاديث بالصحة أو الضعف؟
”Bagaimana
perihal Syu’aib al-Arna`uth? Apakah diterima penghukuman beliau kepada
hadits-hadits akan keshahihan dan kedha’ifannya?
الجواب: تحقيقاته
في الجملة طيبة ويؤخذ بما يحكم به على الحديث صحة وضعفا ، إلا إذا تأكدت
أنه في حديث أخطأ فيه فتأخذ بالصحيح لكن إذا لم تجد إلا قوله فلا بأس أن
تأخذ به وقد سئل عنه شيخنا مقبل رحمة الله عليه فأفتى بمثل هذا أنه يستفاد
من تحقيقاته وأنها في الجملة طيبة إلا فيما يتعلق بموضوع العقيدة فهو منتقد
في العقيدة أما من حديث التحقيق والتخريج والحكم على الأحاديث فيشكر على
ذلك ونسأل الله أن يهدينا وإياه وجميع المسلمين.
”Tahqiq (penelitian)
beliau secara umum adalah baik dan boleh diterima penghukumannya
terhadap hadits shahih dan tidaknya, kecuali apabila anda menguatkan
bahwasanya beliau di dalam suatu hadits telah keliru maka ambillah yang shahih,
namun apabila anda tidak menemukan suatu pendapat kecuali hanya
pendapatnya, maka tidaklah mengapa mengambil pendapatnya. Guru kami
Syaikh Muqbil rahmatullahu ’alayhi pernah
ditanya tentangnya (Syu’aib al-Arna`uth) dan beliau menfatwakan yang
semisal dengan jawabanku ini, yaitu boleh memetik faidah dari
penelitian-penelitian beliau dan bahwasanya beliau ini secara global
adalah baik kecuali di dalam masalah yang berkaitan dengan aqidah, dia
dikritik dalam masalah aqidah. Adapun dari segi tahqiq (penelitian), takhrij dan penghukuman atas hadits-hadits, beliau bersyukur atasnya. Semoga Alloh memberikan kita dan beliau petunjuk juga terhadap seluruh kaum muslimin.”
APAKAH KHOMR NAJIS?
Ditanya Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin ’Abdillah al-Imam hafizhahullahu :
هل الخمــر نجـس ؟
”Apakah khomr itu najis?”
Beliau hafizhahullahu menjawab :
الصحيح من أقوال العلماء أنه طاهر وليس بنجس فقد ذكره الله سبحانه وتعالى مقروناً بالأنصاب والأزلام والميسر وهي طاهرة بلا خلاف . ولما في الصحيحين عن أنس أنها لما حرمت الخمر أهريقت بالأسواق وأسواق المسلمين ليست للنجاسات . وفي مسلم في إراقة الأعرابي الخمر بحضرة رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم وبين يديه .
”Yang benar dari pendapat para ulama bahwa khomr itu suci tidak najis. Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan khomr bergandengan dengan al-Anshab (berkorban untuk berhala), al-Azlam (mengundi dengan panah) dan al-Maysir (berjudi) dan kesemuanya ini adalah suci tanpa diperselisihkan lagi. Dan apa yang dijelaskan di dalam Shahihain
dari Anas bahwasanya tatkala khomr diharamkan ditumpahkan di
pasar-pasar sedangkan pasar-pasar kaum muslimin tidaklah najis. Di dalam
riwayat Muslim tentang seorang A’robi (Arab badui) yang menumpahkan khomr di hadapan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam dan khomr pada saat itu ada di tangannya [Maksudnya, apabila khomr itu najis niscaya Rasulullah akan mengingkari si Badui tersebut, pent.].”
BOLEHKAH SHOLAT JUM’AT TANPA MANDI?
Ditanya Fadhitusy Syaikh Muhammad bin ’Abdil Wahhab al-Washobi hafizhahullahu :
سائل يقول : هل يجوز صلاة الجمعة بدون غسل ؟
”Bolehkah sholat Jum’at tanpa mandi?”
Syaikh hafizhahullahu menjawab :
يجوز
لكن الأفضل أن تغتسل فقد جاءت جملة أحاديث تأمر بغسل يوم الجمعة ومن أهل
العلم من يقول بوجوبه والجمهور جمهور أهل العلم على استحبابه فالأفضل أن
تحافظ عليه لكن لو حصل أنك صليت جمعة بدون غسل وقد تؤضأت فصلاتك صحيحة إن
شاء الله إذا أديتها بأركانها وشروطها وواجباتها.
”Boleh, tapi yang lebih afdhal
hendaknya anda mandi dulu. Telah datang sejumlah hadits yang
memerintahkan untuk mandi pada hari Jum’at, dan sejumlah ulama adalah
yang berpendapat akan kewajibannya. Adapun jumhur ulama, mereka
berpendapat akan sunnahnya. Yang afdhal
adalah menjaga mandi. Akan tetapi apabila terjadi pada anda sholat
Jum’at tanpa mandi dan anda telah berwudhu’, maka sholat anda tetap sah insya Alloh selama anda tetap memenuhi rukun-rukun, syarat-syarat dan kewajiban-kewajibannya.”
Langganan:
Postingan (Atom)






